Cerita ngentot diruang kelas –
Namaku Komariyah, tinggi 160
sentimeter, berat 56 kilogram,
lingkar pinggang 65 sentimeter.
Secara keseluruhan, sosokku
kencang, garis tubuhku tampak bila mengenakan pakaian yang
ketat terutama pakaian senam.
Aku adalah Ibu dari dua anak
berusia 44 tahun dan bekerja
sebagai seorang guru disebuah
SLTA di kota S. Kata orang tahi lalat di daguku
seperti Berliana Febriyanti, dan
bentuk tubuhku mirip Minati
Atmanegara yang tetap
kencang di usia yang semakin
menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki
payudara yang lebih besar
sehingga terlihat lebih
menggairahkan dibanding artis
yang kedua. Semua karunia itu
kudapat dengan olahraga yang teratur. Kira-kira 6 tahun yang lalu saat
usiaku masih 38 tahun salah
seorang sehabatku menitipkan
anaknya yang ingin kuliah di
tempatku, karena ia teman
baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku
menyetujuinya. Nama pemuda
itu Sandi, kulitnya kuning
langsat dengan tinggi 173 cm.
Badannya kurus kekar karena
Sandi seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandi ini
pernah menjadi muridku saat
aku masih menjadi guru SD. Sandi sangat sopan dan tahu
diri. Dia banyak membantu
pekerjaan rumah dan sering
menemani atau mengantar
kedua anakku jika ingin
bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan
keluargaku, bahkan suamiku
sering mengajaknya main tenis
bersama. Aku juga menjadi
terbiasa dengan kehadirannya,
awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya.
Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula
Sandi memperlihatkan sikap
yang wajar jika aku
mengenakan pakaian yang agak
menonjolkan keindahan garis
tubuhku. Sekitar 3 bulan setelah
kedatangannya, suamiku
mendapat tugas sekolah S-2
keluar negeri selama 2, 5
tahun. Aku sangat berat
melepasnya, karena aku bingung bagaimana
menyalurkan kebutuhan sex-ku
yang masih menggebu-gebu.
Walau usiaku sudah tidak muda
lagi, tapi aku rutin
melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali.
Mungkin itu karena olahraga
yang selalu aku jalankan,
sehingga hasrat tubuhku masih
seperti anak muda. Dan kini
dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri. Awalnya biasa saja, tapi setelah
2 bulan kesepian yang amat
sangat menyerangku. Itu
membuat aku menjadi uring-
uringan dan menjadi malas-
malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah
menunjukkan angka 9. Karena
kemarin kedua anakku minta
diantar bermalam di rumah
nenek mereka, sehingga hari ini
aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-
tiduran di sofa di depan TV. Tak
lama terdengar suara pintu
dIbuka dari kamar Sandi. Kudengar suara langkahnya
mendekatiku. “Bu Asmi..?” Suaranya berbisik,
aku diam saja. Kupejamkan
mataku makin erat. Setelah
beberapa saat lengang, tiba-
tiba aku tercekat ketika
merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku,
ternyata Sandi sudah berdiri di
samping ranjangku, dan
matanya sedang tertuju
menatap tubuhku, tangannya
memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku
sedang mengenakan baju tidur
yang tipis, apa lagi tidur
telentang pula. Hatiku menjadi
berdebar-debar tak karuan,
aku terus berpura-pura tertidur. “Bu Asmi..?” Suara Sandi
terdengar keras, kukira dia
ingin memastikan apakah
tidurku benar-benar nyeyak
atau tidak. Aku memutuskan untuk pura-
pura tidur. Kurasakan gaun
tidurku tersingkap semua
sampai keleher. Lalu kurasakan Sandi mengelus
bibirku, jantungku seperti
melompat, aku mencoba tetap
tenang agar pemuda itu tidak
curiga. Kurasakan lagi tangan
itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke
dalam bantal otomatis ketiakku
terlihat. Kuintip lagi, wajah
pemuda itu dekat sekali dengan
wajahku, tapi aku yakin ia
belum tahu kalau aku pura- pura tertidur kuatur napas
selembut mungkin. Lalu kurasakan tangannya
menelusuri leherku, bulu
kudukku meremang geli, aku
mencoba bertahan, aku ingin
tahu apa yang ingin
dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian
aku merasakan tangannya
meraba buah dadaku yang
masih tertutup BH berwarna
hitam, mula-mula ia cuma
mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu
aku merasakan buah dadaku
mulai diremas-remas, aku
merasakan seperti ada sesuatu
yang sedang bergejolak di
dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki
dan kekasaran seorang pria.
Aku memutuskan tetap diam
sampai saatnya tiba. Sekarang tangan Sandi sedang
berusaha membuka kancing BH-
ku dari depan, tak lama
kemudian kurasakan tangan
dingin pemuda itu meremas dan
memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti
amalah membuatnya takut, jadi
kurasakan remasannya dalam
diam. Kurasakan tangannya
gemetar saat memencet puting
susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya
ke arah buah dadaku. Lalu ia
menjilat-jilat puting susuku,
tubuhku ingin menggeliat
merasakan kenikmatan
isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang
berwarna merah tua sudah
mengkilat oleh air liurnya,
mulutnya terus menyedot
puting susuku disertai gigitan-
gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan,
nikmat sekali. Tangan kanan Sandi mulai
menelusuri selangkanganku, lalu
kurasakan jarinya meraba
vaginaku yang masih tertutup
CD, aku tak tahu apakah
vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi
menekan-nekan lubang
vaginaku dari luar CD, lalu
kurasakan tangannya
menyusup masuk ke dalam CD-
ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan
menjalari tubuhku. Jari-jari
Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas
masuk ke dalam, wah nikmat
sekali. Aku harus mengakhiri
Sandiwaraku, aku sudah tak
tahan lagi, kubuka mataku
sambil menyentakkan tubuhku. “Sandi!! Ngapain kamu?” Aku berusaha bangun duduk,
tapi tangan Sandi menekan
pundakku dengan keras. Tiba-
tiba Sandi mecium mulutku
secepat kilat, aku berusaha
memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku.
Tapi Sandi makin keras
menekan pundakku, malah
sekarang pemuda itu menindih
tubuhku, aku kesulitan
bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot.
Kurasakan mulutnya kembali
melumat mulutku, lidahnya
masuk ke dalam mulutku, tapi
aku pura-pura menolak. “Bu.., maafkan saya. Sudah
lama saya ingin merasakan ini,
maafkan saya Bu… ” Sandi
melepaskan ciumannya lalu
memandangku dengan
pandangan meminta. “Kamu kan bisa denagan
teman-teman kamu yang masih
muda. Ibukan sudah tua,”
Ujarku lembut. “Tapi saya sudah tergila-gila
dengan Bu Asmi.. Saat SD saya
sering mengintip BH yang Ibu
gunakan… Saya akan
memuaskan Ibu sepuas-
puasnya,” jawab Sandi. “Ah kamu… Ya sudah terserah
kamu sajalah” Aku pura-pura menghela napas
panjang, padahal tubuhku
sudah tidak tahan ingin dijamah
olehnya. Lalu Sandi melumat bibirku dan
pelan-pelan aku meladeni
permainan lidahnya. Kedua
tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta
izin ke WC yang ada di dalam
kamar tidurku. Di dalam kamar
mandi, kubuka semua pakaian
yang ada di tubuhku,
kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandi
terangsang melihat tubuhku
ini? Perduli amat yang penting
aku ingin merasakan bagaimana
sich bercinta dengan remaja
yang masih panas. Keluar dari kamar mandi, Sandi
persis masuk kamar. Matanya
terbeliak melihat tubuh sintalku
yang tidak berpenutup sehelai
benangpun. “Body Ibu bagus banget.. ” dia
memuji sembari mengecup
putting susuku yang sudah
mengeras sedari tadi. Tubuhku
disandarkannya di tembok
depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku,
mulai dari pipi, kedua telinga,
leher, hingga ke dadaku.
Sepasang payudara montokku
habis diremas-remas dan
diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik
dengan ujung lidah, juga
dikenyot-kenyot dengan
sangat bernafsu. “Ibu hebat…,” desisnya. “Apanya yang hebat..?”
Tanyaku sambil mangacak-acak
rambut Sandi yang panjang
seleher. “Badan Ibu enggak banyak
berubah dibandingkan saya SD
dulu” Katanya sambil terus
melumat puting susuku. Nikmat
sekali. “Itu karena Ibu teratur
olahraga” jawabku sembari
meremas tonjolan kemaluannya.
Dengan bergegas kuloloskan
celana hingga celana dalamnya.
Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang
dengan kedua kaki
mengangkang. DIbukanya sendiri
baju kaosnya, sementara aku
berlutut meraih batang
penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil. Agak lama aku mencumbu
kemaluannya, Sandi minta
gantian, dia ingin mengerjai
vaginaku. “Masukin aja yuk, Ibu sudah
ingin ngerasain penis kamu
San!” Cegahku sambil
menciumnya. Sandi tersenyum lebar. “Sudah
enggak sabar ya ?” godanya. “Kamu juga sudah enggak
kuatkan sebenarnya San,”
Balasku sambil mencubit
perutnya yang berotot. Sandi tersenyum lalu menarik
tubuhku. Kami berpelukan,
berciuman rapat sekali,
berguling-guling di atas ranjang.
Ternyata Sandi pintar sekali
bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat
singkat. Terasa vaginaku
semakin berdenyut-denyut,
lendirku kian membanjir, tidak
sabar menanti terobosan
batang kemaluan Sandi yang besar. Berbeda dengan suamiku, Sandi
nampaknya lebih sabar. Dia
tidak segera memasukkan
batang penisnya, melainkan
terus menciumi sekujur
tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga
menelungkup, lalu diciuminya
kedua pahaku bagian belakang,
naik ke bongkahan pantatku,
terus naik lagi hingga ke
tengkuk. Birahiku menggelegak- gelegak. Sandi menyelipkan tangan
kirinya ke bawah tubuhku,
tubuh kami berimpitan dengan
posisi aku membelakangi Sandi,
lalu diremas-remasnya buah
dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga,
dan sesekali pipiku. Sementara
itu tangan kanannya
mengusap-usap vaginaku dari
belakang. Terasa jari
tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang
basah merekah. “Vagina Ibu bagus, tebel, pasti
enak ‘bercinta’ sama Ibu…,”
dia berbisik persis di telingaku.
Suaranya sudah sangat parau,
pertanda birahinya pun sama
tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi.
Kubiarkan saja apapun yang
dilakukan Sandi, hingga terasa
tangan kanannya bergerak
mengangkat sebelah pahaku. Mataku terpejam rapat, seakan
tak dapat lagi membuka. Terasa
nafas Sandi semakin memburu,
sementara ujung lidahnya
menggelitiki lubang telingaku.
Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah
dadaku, sementara yang kanan
mengangkat sebelah pahaku
semakin tinggi. Lalu…, terasa
sebuah benda tumpul
menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang.
Oh, my God, dia telah
memasukkan rudalnya…!!! Sejenak aku tidak dapat
bereaksi sama sekali, melainkan
hanya menggigit bibir kuat-
kuat. Kunikmati inci demi inci
batang kemaluan Sandi
memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar
biasa. “Oohh…,” sesaat kemudian aku
mulai bereaksi tak karuan.
Tubuhku langsung menggerinjal-
gerinjal, sementara Sandi mulai
memaju mundurkan tongkat
wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali. “Saann, penismu enaaak…!!!,”
kataku setengah menjerit. Sandi tidak menjawab,
melainkan terus memaju
mundurkan rudalnya.
Gerakannya cepat dan kuat,
bahkan cenderung kasar. Tentu
saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya
yang besar itu seperti hendak
membongkar liang vaginaku
sampai ke dasar. “Oohh…, toloongg.., gustii…!!!” Sandi malah semakin
bersemangat mendengar jerit
dan rintihanku. Aku semakin
erotis. “Aahh, penismu…, oohh,
aarrghh…, penismuu…,
oohh…!!!” Sandi terus menggecak-gecak.
Tenaganya kuat sekali, apalagi
dengan batang penis yang luar
biasa keras dan kaku. Walaupun
kami bersetubuh dengan posisi
menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan
menyodokkan batang
kemaluannya pada vaginaku.
Orgasmeku cepat sekali terasa
akan meledak. “Ibu mau keluar! Ibu mau
keluaaar!!” aku menjerit-jerit. “Yah, yah, yah, aku juga, aku
juga! Enak banget ‘bercinta’
sama Ibu!” Sandi menyodok-
nyodok semakin kencang. “Sodok terus, Saann!!!… Yah,
ooohhh, yahh, ugghh!!!” “Teruuss…, arrgghh…, sshh…,
ohh…, sodok terus
penismuuu…!” “Oh, ah, uuugghhh… ” “Enaaak…, penis kamu enak,
penis kamu sedap, yahhh,
teruuusss…” Pada detik-detik terakhir,
tangan kananku meraih pantat
Sandi, kuremas bongkahan
pantatnya, sementara paha
kananku mengangkat lurus
tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang
sekali. Aku orgasme! Sesaat aku seperti melayang,
tidak ingat apa-apa kecuali
nikmat yang tidak terkatakan.
Mungkin sudah ada lima tahun
aku tak merasakan kenikmatan
seperti ini. Sandi mengecup- ngecup pipi serta daun
telingaku. Sejenak dia
membiarkan aku mengatur
nafas, sebelum kemudian dia
memintaku menungging. Aku
baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme. Kuturuti permintaan Sandi.
Dengan agak lunglai akibat
orgasme yang luar biasa,
kuatur posisi tubuhku hingga
menungging. Sandi mengikuti
gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan
panjang itu tetap menancap
dalam vaginaku. Lalu perlahan terasa dia mulai
mengayun pinggulnya. Ternyata
dia luar biasa sabar. Dia memaju
mundurkan gerak pinggulnya
satu-dua secara teratur,
seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal
tentu perjalanan birahinya
sudah cukup tinggi tadi. Aku menikmati gerakan maju-
mundur penis Sandi dengan
diam. Kepalaku tertunduk,
kuatur kembali nafasku. Tidak
berapa lama, vaginaku mulai
terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang.
Sandi segera menunduk,
dikecupnya pipiku. “San.. Kamu hebat banget.. Ibu
kira tadi kamu sudah hampir
keluar,” kataku terus terang. “Emangnya Ibu suka kalau aku
cepet keluar?” jawabnya
lembut di telingaku. Aku tersenyum, kupalingkan
mukaku lebih ke belakang. Sandi
mengerti, diciumnya bibirku. Lalu
dia menggenjot lebih cepat. Dia
seperti mengetahui bahwa aku
mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku
perlahan, ke kiri dan ke kanan. Sandi melenguh. Diremasnya
kedua bongkah pantatku, lalu
gerakannya jadi lebih kuat dan
cepat. Batang kemaluannya
yang luar biasa keras
menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang
lagi. “Oorrgghh…, aahh…, ennaak…,
penismu enak bangeett…
Ssann!!” Sandi tidak bersuara, melainkan
menggecak-gecak semakin
kuat. Tubuhku sampai
terguncang-guncang. Aku
menjerit-jerit. Cepat sekali,
birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali
ini segera akan mencapai
klimaks. Maka kuimbangi
gerakannya dengan
menggoyangkan pinggulku
cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali
kumajumundurkan berlawanan
dengan gerakan Sandi. Pemuda
itu mulai mengerang-erang
pertanda dia pun segera akan
orgasme. Tiba-tiba Sandi menyuruhku
berbalik. Dicabutnya penisnya
dari kemaluanku. Aku berbalik
cepat. Lalu kukangkangkan
kedua kakiku dengan setengah
mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua
dengkulnya hingga merapat
pada pahaku. Kedua kakiku
menekuk mengangkang. Sandi
memegang kedua kakiku di
bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras
menghunjam mulut vaginaku
yang menganga. “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit. “Aku hampir keluar!” Sandi
bergumam. Gerakannya
langsung cepat dan kuat. Aku
tidak bisa bergoyang dalam
posisi seperti itu, maka aku
pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang
kemaluan Sandi. Kedua
tanganku mencengkeram sprei
kuat-kuat. “Terus, Sayang…,
teruuusss…!”desahku. “Ooohhh, enak sekali…, aku
keenakan…, enak ‘bercinta’
sama Ibu!” Erang Sandi “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu
keenakaan…!” Balasku. “Aku sudah hampir keluar,
Buu…, vagina Ibu enak
bangeet… ” “Ibu juga mau keluar lagi,
tahan dulu! Teruss…, yaah, aku
juga mau keluarr!” “Ah, oh, uughhh, aku enggak
tahan, aku enggak tahan, aku
mau keluaaar…!” “Yaahh teruuss, sodok teruss!!!
Ibu enak enak, Ibu enak,
Saann…, aku mau keluar, aku
mau keluar, vaginaku
keenakan, aku keenakan
‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…,
ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!” Tubuhku mengejang sesaat
sementara otot vaginaku
terasa berdenyut-denyut
kencang. Aku menjerit panjang,
tak kuasa menahan nikmatnya
orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat,
menghunjamkan batang kontolnya dalam-dalam di liang
vaginaku. “Oohhh…!!!” dia pun menjerit,
sementara terasa kemaluannya
menyembur-nyemburkan cairan
mani di dalam vaginaku.
Nikmatnya tak terkatakan,
indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan
seperti itu. Lalu tubuh kami sama-sama
melunglai, tetapi kemaluan kami
masih terus bertautan. Sandi
memelukku mesra sekali.
Sejenak kami sama-sama sIbuk
mengatur nafas. “Enak banget,” bisik Sandi
beberapa saat kemudian. “Hmmm…” Aku menggeliat
manja. Terasa batang kemaluan
Sandi bergerak-gerak di dalam
vaginaku. “Vagina Ibu enak banget, bisa
nyedot-nyedot gitu…” “Apalagi penis kamu…, gede,
keras, dalemmm…” Sandi bergerak menciumi aku
lagi. Kali ini diangkatnya tangan
kananku, lalu kepalanya
menyusup mencium ketiakku.
Aku mengikik kegelian. Sandi
menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi
enak. Apalagi kemudian lidahnya
terus menjulur-julur menjilati
buah dadaku. Sandi lalu menetek seperti bayi.
Aku mengikik lagi. Putingku
dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil.
Kujambaki rambut Sandi karena
kelakuannya itu membuat
birahiku mulai menyentak- nyentak lagi. Sandi mengangkat
wajahnya sedikit, tersenyum
tipis, lalu berkata, “Aku bisa enggak puas-puas
‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga
suka kan?” Aku tersenyum saja, dan itu
sudah cukup bagi Sandi sebagai
jawaban. Alhasil, seharian itu
kami bersetubuh lagi. Setelah
break sejenak di sore hari
malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku.
Sedikitnya malam itu ada 3
ronde tambahan yang kami
mainkan dengan entah berapa
kali aku mencapai orgasme.
Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai,
lemas tak bertenaga. Hampir tidak tidur sama sekali,
tapi aku tetap pergi ke
sekolah. Di sekolah rasanya aku
kuyu sekali. Teman-teman
banyak yang mengira aku sakit,
padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh
sehari semalam dengan bekas
muridku yang perkasau dari dua anak
berusia 44 tahun dan bekerja
sebagai seorang guru disebuah
SLTA di kota S. Kata orang tahi lalat di daguku
seperti Berliana Febriyanti, dan
bentuk tubuhku mirip Minati
Atmanegara yang tetap
kencang di usia yang semakin
menua. Mungkin mereka ada benarnya, tetapi aku memiliki
payudara yang lebih besar
sehingga terlihat lebih
menggairahkan dibanding artis
yang kedua. Semua karunia itu
kudapat dengan olahraga yang teratur. Kira-kira 6 tahun yang lalu saat
usiaku masih 38 tahun salah
seorang sehabatku menitipkan
anaknya yang ingin kuliah di
tempatku, karena ia teman
baikku dan suamiku tidak keberatan akhirnya aku
menyetujuinya. Nama pemuda
itu Sandi, kulitnya kuning
langsat dengan tinggi 173 cm.
Badannya kurus kekar karena
Sandi seorang atlit karate di tempatnya. Oh ya, Sandi ini
pernah menjadi muridku saat
aku masih menjadi guru SD. Sandi sangat sopan dan tahu
diri. Dia banyak membantu
pekerjaan rumah dan sering
menemani atau mengantar
kedua anakku jika ingin
bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan
keluargaku, bahkan suamiku
sering mengajaknya main tenis
bersama. Aku juga menjadi
terbiasa dengan kehadirannya,
awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya.
Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula
Sandi memperlihatkan sikap
yang wajar jika aku
mengenakan pakaian yang agak
menonjolkan keindahan garis
tubuhku. Sekitar 3 bulan setelah
kedatangannya, suamiku
mendapat tugas sekolah S-2
keluar negeri selama 2, 5
tahun. Aku sangat berat
melepasnya, karena aku bingung bagaimana
menyalurkan kebutuhan sex-ku
yang masih menggebu-gebu.
Walau usiaku sudah tidak muda
lagi, tapi aku rutin
melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali.
Mungkin itu karena olahraga
yang selalu aku jalankan,
sehingga hasrat tubuhku masih
seperti anak muda. Dan kini
dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri. Awalnya biasa saja, tapi setelah
2 bulan kesepian yang amat
sangat menyerangku. Itu
membuat aku menjadi uring-
uringan dan menjadi malas-
malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah
menunjukkan angka 9. Karena
kemarin kedua anakku minta
diantar bermalam di rumah
nenek mereka, sehingga hari ini
aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-
tiduran di sofa di depan TV. Tak
lama terdengar suara pintu
dIbuka dari kamar Sandi. Kudengar suara langkahnya
mendekatiku. “Bu Asmi..?” Suaranya berbisik,
aku diam saja. Kupejamkan
mataku makin erat. Setelah
beberapa saat lengang, tiba-
tiba aku tercekat ketika
merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku,
ternyata Sandi sudah berdiri di
samping ranjangku, dan
matanya sedang tertuju
menatap tubuhku, tangannya
memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku
sedang mengenakan baju tidur
yang tipis, apa lagi tidur
telentang pula. Hatiku menjadi
berdebar-debar tak karuan,
aku terus berpura-pura tertidur. “Bu Asmi..?” Suara Sandi
terdengar keras, kukira dia
ingin memastikan apakah
tidurku benar-benar nyeyak
atau tidak. Aku memutuskan untuk pura-
pura tidur. Kurasakan gaun
tidurku tersingkap semua
sampai keleher. Lalu kurasakan Sandi mengelus
bibirku, jantungku seperti
melompat, aku mencoba tetap
tenang agar pemuda itu tidak
curiga. Kurasakan lagi tangan
itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke
dalam bantal otomatis ketiakku
terlihat. Kuintip lagi, wajah
pemuda itu dekat sekali dengan
wajahku, tapi aku yakin ia
belum tahu kalau aku pura- pura tertidur kuatur napas
selembut mungkin. Lalu kurasakan tangannya
menelusuri leherku, bulu
kudukku meremang geli, aku
mencoba bertahan, aku ingin
tahu apa yang ingin
dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian
aku merasakan tangannya
meraba buah dadaku yang
masih tertutup BH berwarna
hitam, mula-mula ia cuma
mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu
aku merasakan buah dadaku
mulai diremas-remas, aku
merasakan seperti ada sesuatu
yang sedang bergejolak di
dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki
dan kekasaran seorang pria.
Aku memutuskan tetap diam
sampai saatnya tiba. Sekarang tangan Sandi sedang
berusaha membuka kancing BH-
ku dari depan, tak lama
kemudian kurasakan tangan
dingin pemuda itu meremas dan
memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti
amalah membuatnya takut, jadi
kurasakan remasannya dalam
diam. Kurasakan tangannya
gemetar saat memencet puting
susuku, kulirik pelan, kulihat Sandi mendekatkan wajahnya
ke arah buah dadaku. Lalu ia
menjilat-jilat puting susuku,
tubuhku ingin menggeliat
merasakan kenikmatan
isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang
berwarna merah tua sudah
mengkilat oleh air liurnya,
mulutnya terus menyedot
puting susuku disertai gigitan-
gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan,
nikmat sekali. Tangan kanan Sandi mulai
menelusuri selangkanganku, lalu
kurasakan jarinya meraba
vaginaku yang masih tertutup
CD, aku tak tahu apakah
vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Sandi
menekan-nekan lubang
vaginaku dari luar CD, lalu
kurasakan tangannya
menyusup masuk ke dalam CD-
ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan
menjalari tubuhku. Jari-jari
Sandi mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas
masuk ke dalam, wah nikmat
sekali. Aku harus mengakhiri
Sandiwaraku, aku sudah tak
tahan lagi, kubuka mataku
sambil menyentakkan tubuhku. “Sandi!! Ngapain kamu?” Aku berusaha bangun duduk,
tapi tangan Sandi menekan
pundakku dengan keras. Tiba-
tiba Sandi mecium mulutku
secepat kilat, aku berusaha
memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku.
Tapi Sandi makin keras
menekan pundakku, malah
sekarang pemuda itu menindih
tubuhku, aku kesulitan
bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot.
Kurasakan mulutnya kembali
melumat mulutku, lidahnya
masuk ke dalam mulutku, tapi
aku pura-pura menolak. “Bu.., maafkan saya. Sudah
lama saya ingin merasakan ini,
maafkan saya Bu… ” Sandi
melepaskan ciumannya lalu
memandangku dengan
pandangan meminta. “Kamu kan bisa denagan
teman-teman kamu yang masih
muda. Ibukan sudah tua,”
Ujarku lembut. “Tapi saya sudah tergila-gila
dengan Bu Asmi.. Saat SD saya
sering mengintip BH yang Ibu
gunakan… Saya akan
memuaskan Ibu sepuas-
puasnya,” jawab Sandi. “Ah kamu… Ya sudah terserah
kamu sajalah” Aku pura-pura menghela napas
panjang, padahal tubuhku
sudah tidak tahan ingin dijamah
olehnya. Lalu Sandi melumat bibirku dan
pelan-pelan aku meladeni
permainan lidahnya. Kedua
tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta
izin ke WC yang ada di dalam
kamar tidurku. Di dalam kamar
mandi, kubuka semua pakaian
yang ada di tubuhku,
kupandangi badanku di cermin. Benarkah pemuda seperti Sandi
terangsang melihat tubuhku
ini? Perduli amat yang penting
aku ingin merasakan bagaimana
sich bercinta dengan remaja
yang masih panas. Keluar dari kamar mandi, Sandi
persis masuk kamar. Matanya
terbeliak melihat tubuh sintalku
yang tidak berpenutup sehelai
benangpun. “Body Ibu bagus banget.. ” dia
memuji sembari mengecup
putting susuku yang sudah
mengeras sedari tadi. Tubuhku
disandarkannya di tembok
depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku,
mulai dari pipi, kedua telinga,
leher, hingga ke dadaku.
Sepasang payudara montokku
habis diremas-remas dan
diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik
dengan ujung lidah, juga
dikenyot-kenyot dengan
sangat bernafsu. “Ibu hebat…,” desisnya. “Apanya yang hebat..?”
Tanyaku sambil mangacak-acak
rambut Sandi yang panjang
seleher. “Badan Ibu enggak banyak
berubah dibandingkan saya SD
dulu” Katanya sambil terus
melumat puting susuku. Nikmat
sekali. “Itu karena Ibu teratur
olahraga” jawabku sembari
meremas tonjolan kemaluannya.
Dengan bergegas kuloloskan
celana hingga celana dalamnya.
Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang
dengan kedua kaki
mengangkang. DIbukanya sendiri
baju kaosnya, sementara aku
berlutut meraih batang
penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil. Agak lama aku mencumbu
kemaluannya, Sandi minta
gantian, dia ingin mengerjai
vaginaku. “Masukin aja yuk, Ibu sudah
ingin ngerasain penis kamu
San!” Cegahku sambil
menciumnya. Sandi tersenyum lebar. “Sudah
enggak sabar ya ?” godanya. “Kamu juga sudah enggak
kuatkan sebenarnya San,”
Balasku sambil mencubit
perutnya yang berotot. Sandi tersenyum lalu menarik
tubuhku. Kami berpelukan,
berciuman rapat sekali,
berguling-guling di atas ranjang.
Ternyata Sandi pintar sekali
bercumbu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat
singkat. Terasa vaginaku
semakin berdenyut-denyut,
lendirku kian membanjir, tidak
sabar menanti terobosan
batang kemaluan Sandi yang besar. Berbeda dengan suamiku, Sandi
nampaknya lebih sabar. Dia
tidak segera memasukkan
batang penisnya, melainkan
terus menciumi sekujur
tubuhku. Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga
menelungkup, lalu diciuminya
kedua pahaku bagian belakang,
naik ke bongkahan pantatku,
terus naik lagi hingga ke
tengkuk. Birahiku menggelegak- gelegak. Sandi menyelipkan tangan
kirinya ke bawah tubuhku,
tubuh kami berimpitan dengan
posisi aku membelakangi Sandi,
lalu diremas-remasnya buah
dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga,
dan sesekali pipiku. Sementara
itu tangan kanannya
mengusap-usap vaginaku dari
belakang. Terasa jari
tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang
basah merekah. “Vagina Ibu bagus, tebel, pasti
enak ‘bercinta’ sama Ibu…,”
dia berbisik persis di telingaku.
Suaranya sudah sangat parau,
pertanda birahinya pun sama
tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi.
Kubiarkan saja apapun yang
dilakukan Sandi, hingga terasa
tangan kanannya bergerak
mengangkat sebelah pahaku. Mataku terpejam rapat, seakan
tak dapat lagi membuka. Terasa
nafas Sandi semakin memburu,
sementara ujung lidahnya
menggelitiki lubang telingaku.
Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah
dadaku, sementara yang kanan
mengangkat sebelah pahaku
semakin tinggi. Lalu…, terasa
sebuah benda tumpul
menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang.
Oh, my God, dia telah
memasukkan rudalnya…!!! Sejenak aku tidak dapat
bereaksi sama sekali, melainkan
hanya menggigit bibir kuat-
kuat. Kunikmati inci demi inci
batang kemaluan Sandi
memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar
biasa. “Oohh…,” sesaat kemudian aku
mulai bereaksi tak karuan.
Tubuhku langsung menggerinjal-
gerinjal, sementara Sandi mulai
memaju mundurkan tongkat
wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali. “Saann, penismu enaaak…!!!,”
kataku setengah menjerit. Sandi tidak menjawab,
melainkan terus memaju
mundurkan rudalnya.
Gerakannya cepat dan kuat,
bahkan cenderung kasar. Tentu
saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya
yang besar itu seperti hendak
membongkar liang vaginaku
sampai ke dasar. “Oohh…, toloongg.., gustii…!!!” Sandi malah semakin
bersemangat mendengar jerit
dan rintihanku. Aku semakin
erotis. “Aahh, penismu…, oohh,
aarrghh…, penismuu…,
oohh…!!!” Sandi terus menggecak-gecak.
Tenaganya kuat sekali, apalagi
dengan batang penis yang luar
biasa keras dan kaku. Walaupun
kami bersetubuh dengan posisi
menyamping, nampaknya Sandi sama sekali tidak kesulitan
menyodokkan batang
kemaluannya pada vaginaku.
Orgasmeku cepat sekali terasa
akan meledak. “Ibu mau keluar! Ibu mau
keluaaar!!” aku menjerit-jerit. “Yah, yah, yah, aku juga, aku
juga! Enak banget ‘bercinta’
sama Ibu!” Sandi menyodok-
nyodok semakin kencang. “Sodok terus, Saann!!!… Yah,
ooohhh, yahh, ugghh!!!” “Teruuss…, arrgghh…, sshh…,
ohh…, sodok terus
penismuuu…!” “Oh, ah, uuugghhh… ” “Enaaak…, penis kamu enak,
penis kamu sedap, yahhh,
teruuusss…” Pada detik-detik terakhir,
tangan kananku meraih pantat
Sandi, kuremas bongkahan
pantatnya, sementara paha
kananku mengangkat lurus
tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang
sekali. Aku orgasme! Sesaat aku seperti melayang,
tidak ingat apa-apa kecuali
nikmat yang tidak terkatakan.
Mungkin sudah ada lima tahun
aku tak merasakan kenikmatan
seperti ini. Sandi mengecup- ngecup pipi serta daun
telingaku. Sejenak dia
membiarkan aku mengatur
nafas, sebelum kemudian dia
memintaku menungging. Aku
baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme. Kuturuti permintaan Sandi.
Dengan agak lunglai akibat
orgasme yang luar biasa,
kuatur posisi tubuhku hingga
menungging. Sandi mengikuti
gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan
panjang itu tetap menancap
dalam vaginaku. Lalu perlahan terasa dia mulai
mengayun pinggulnya. Ternyata
dia luar biasa sabar. Dia memaju
mundurkan gerak pinggulnya
satu-dua secara teratur,
seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal
tentu perjalanan birahinya
sudah cukup tinggi tadi. Aku menikmati gerakan maju-
mundur penis Sandi dengan
diam. Kepalaku tertunduk,
kuatur kembali nafasku. Tidak
berapa lama, vaginaku mulai
terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang.
Sandi segera menunduk,
dikecupnya pipiku. “San.. Kamu hebat banget.. Ibu
kira tadi kamu sudah hampir
keluar,” kataku terus terang. “Emangnya Ibu suka kalau aku
cepet keluar?” jawabnya
lembut di telingaku. Aku tersenyum, kupalingkan
mukaku lebih ke belakang. Sandi
mengerti, diciumnya bibirku. Lalu
dia menggenjot lebih cepat. Dia
seperti mengetahui bahwa aku
mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku
perlahan, ke kiri dan ke kanan. Sandi melenguh. Diremasnya
kedua bongkah pantatku, lalu
gerakannya jadi lebih kuat dan
cepat. Batang kemaluannya
yang luar biasa keras
menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang
lagi. “Oorrgghh…, aahh…, ennaak…,
penismu enak bangeett…
Ssann!!” Sandi tidak bersuara, melainkan
menggecak-gecak semakin
kuat. Tubuhku sampai
terguncang-guncang. Aku
menjerit-jerit. Cepat sekali,
birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Sandi pun kali
ini segera akan mencapai
klimaks. Maka kuimbangi
gerakannya dengan
menggoyangkan pinggulku
cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali
kumajumundurkan berlawanan
dengan gerakan Sandi. Pemuda
itu mulai mengerang-erang
pertanda dia pun segera akan
orgasme. Tiba-tiba Sandi menyuruhku
berbalik. Dicabutnya penisnya
dari kemaluanku. Aku berbalik
cepat. Lalu kukangkangkan
kedua kakiku dengan setengah
mengangkatnya. Sandi langsung menyodokkan kedua
dengkulnya hingga merapat
pada pahaku. Kedua kakiku
menekuk mengangkang. Sandi
memegang kedua kakiku di
bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras
menghunjam mulut vaginaku
yang menganga. “Aarrgghhh…!!!” aku menjerit. “Aku hampir keluar!” Sandi
bergumam. Gerakannya
langsung cepat dan kuat. Aku
tidak bisa bergoyang dalam
posisi seperti itu, maka aku
pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang
kemaluan Sandi. Kedua
tanganku mencengkeram sprei
kuat-kuat. “Terus, Sayang…,
teruuusss…!”desahku. “Ooohhh, enak sekali…, aku
keenakan…, enak ‘bercinta’
sama Ibu!” Erang Sandi “Ibu juga, Ibu juga, vagina Ibu
keenakaan…!” Balasku. “Aku sudah hampir keluar,
Buu…, vagina Ibu enak
bangeet… ” “Ibu juga mau keluar lagi,
tahan dulu! Teruss…, yaah, aku
juga mau keluarr!” “Ah, oh, uughhh, aku enggak
tahan, aku enggak tahan, aku
mau keluaaar…!” “Yaahh teruuss, sodok teruss!!!
Ibu enak enak, Ibu enak,
Saann…, aku mau keluar, aku
mau keluar, vaginaku
keenakan, aku keenakan
‘bercinta’ sama kamu…, yaahh…, teruss…, aarrgghh…,
ssshhh…, uughhh…, aarrrghh!!!” Tubuhku mengejang sesaat
sementara otot vaginaku
terasa berdenyut-denyut
kencang. Aku menjerit panjang,
tak kuasa menahan nikmatnya
orgasme. Pada saat bersamaan, Sandi menekan kuat-kuat,
menghunjamkan batang kontolnya dalam-dalam di liang
vaginaku. “Oohhh…!!!” dia pun menjerit,
sementara terasa kemaluannya
menyembur-nyemburkan cairan
mani di dalam vaginaku.
Nikmatnya tak terkatakan,
indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan
seperti itu. Lalu tubuh kami sama-sama
melunglai, tetapi kemaluan kami
masih terus bertautan. Sandi
memelukku mesra sekali.
Sejenak kami sama-sama sIbuk
mengatur nafas. “Enak banget,” bisik Sandi
beberapa saat kemudian. “Hmmm…” Aku menggeliat
manja. Terasa batang kemaluan
Sandi bergerak-gerak di dalam
vaginaku. “Vagina Ibu enak banget, bisa
nyedot-nyedot gitu…” “Apalagi penis kamu…, gede,
keras, dalemmm…” Sandi bergerak menciumi aku
lagi. Kali ini diangkatnya tangan
kananku, lalu kepalanya
menyusup mencium ketiakku.
Aku mengikik kegelian. Sandi
menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi
enak. Apalagi kemudian lidahnya
terus menjulur-julur menjilati
buah dadaku. Sandi lalu menetek seperti bayi.
Aku mengikik lagi. Putingku
dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil.
Kujambaki rambut Sandi karena
kelakuannya itu membuat
birahiku mulai menyentak- nyentak lagi. Sandi mengangkat
wajahnya sedikit, tersenyum
tipis, lalu berkata, “Aku bisa enggak puas-puas
‘bercinta’ sama Ibu… Ibu juga
suka kan?” Aku tersenyum saja, dan itu
sudah cukup bagi Sandi sebagai
jawaban. Alhasil, seharian itu
kami bersetubuh lagi. Setelah
break sejenak di sore hari
malamnya Sandi kembali meminta jatah dariku.
Sedikitnya malam itu ada 3
ronde tambahan yang kami
mainkan dengan entah berapa
kali aku mencapai orgasme.
Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai,
lemas tak bertenaga. Hampir tidak tidur sama sekali,
tapi aku tetap pergi ke
sekolah. Di sekolah rasanya aku
kuyu sekali. Teman-teman
banyak yang mengira aku sakit,
padahal aku justru sedang happy, sehabis bersetubuh
sehari semalam dengan bekas
muridku yang perkasa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: