abg belia

Pada tahun 1994 saya tercatat
sebagai siswa baru pada SMUN 2
pada waktu itu sebagai siswa
baru, yah.. acara sekolahan biasa
saja masuk pagi pulang sekitar
jam 14:00 sampai pada akhirnya saya dikenalkan oleh teman
seorang gadis yang ternyata
gadis itu sekolah juga di dekat
sekolah saya yaitu di SMPN 3. Ketika kami saling menjabat
tangan, gadis itu masih agak
malu-malu, saya lihat juga gadis
itu tingginya hanya sekitar 158
cm dan mempunyai dada yang
memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B
(kalau tidak salah umurnya 14
tahun), mempunyai wajah yang
manis banget dan kulit walaupun
tidak terlalu putih tapi sangat
mulus, (sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16
tahun), saya berkata siapa
namamu?, dia jawab L—-
(edited), setelah berkenalan
akhirnya kami saling memberikan
nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon
dan berkenalan akhirnya kami
berdua janjian keluar besok
harinya jalan pertama sekaligus
cinta pertama saya membuat
saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah…, jalan terus dong. Akhirnya malam harinya sekitar
jam 19.00 saya telah berdiri
didepan rumahnya sambil
mengetuk pagarnya tidak lama
setelah itu L—-muncul dari balik
pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos
ketat dan rok yang kira-kira
panjangnya hampir mencapai
lutut berwarna hitam.
Saya tanya, “Mana ortu
kamu…”, dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal
bersama papanya dan pembantu,
sedangkan kalau kakaknya dan
mamanya di kota lain.
“Oohh jawab saya,” saya tanya
lagi “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar
ada rapat lain di hotel (papanya
seorang pejabat kira-kira
setingkat dengan wagub) jadi
saat itu juga kami langsung jalan
naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk
dari belakang, penis saya selama
jalan-jalan langsung tegang,
habis dada dia begitu kenyal
terasa di belakangku seakan-
akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat
mendukung, yaitu RGR). Setelah keliling kota dan singgah
makan di tempat makan kami
langsung pulang ke rumahnya
setelah tiba saya lihat rumahnya
masih sepi mobil papanya belum
datang. Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk!.,
Papa saya kayaknya belum
datang”. Akhirnya setelah
menaruh motor saya langsung
mengikutinya dari belakang saya
langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di
depanku, saya lihat jam ternyata
sudah pukul 21.30, setiba di
dalam rumahnya saya lihat tidak
ada orang saya bilang
“Pembantu kamu mana?”, dia bilang kalau kamar pembantu itu
terpisah dari bangunan utama
rumah ini agak jauh ke belakang.
“oohh…”, jawab saya.
Saya tanya lagi, “jadi kalau
sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi
ke belakang?”, dia jawab iya.
“Terus Papa kamu yang bukain
siapa…”
“saya…” jawabnya.
“Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…”, tanya saya. Dia
bilang paling cepat juga jam
24.00. (Langsung saja pikiranku
ngeres banget)
Saya tanya lagi “Kamu memang
mau jadi pacar saya…”. Dia bilang “Iya…”.
Lalu saya bilang, “kalau gitu sini
dong dekat-dekat saya…”,
belum sampai pantatnya duduk di
kursi sebelahku, langsung saya
tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget
sekali tapi belum sampai ngomong
apa-apa tanganku langsung
memegang payudaranya yang
benar-benar besar itu sambil
saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet)
diapun mengeluh “Ohh.., oohh
sakit”. katanya. Saya langsung mengulum
telinganya sambil berbisik,
“Tahan sedikit yah…”, dia cuma
mengangguk. Payudaranya saya
remas dengan kedua tanganku
sambil bibir saya jilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya
langsung saya lumat-lumat
bibirnya yang agak seksi itu,
kamipun berpagutan saling
membenamkan lidah kami masing-
masing. Penis saya langsung saya rasakan menegang dengan
kerasnya. Saya mengambil
tangan kirinya dan menuntun
memegang penisku dibalik celana
saya, dia cuma menurut saja, lalu
saya suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung
mengeluh panjang, “Uuhh…,
nikmat sayang”, kata saya.
“Teruss…”, dengan agak keras
kedua tanganku langsung
mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan
muka saya di antara
payudaranya, tapi masih
terhalang BH-nya saya jilati
payudaranya sambil saya gigit-
gigit kecil di sekitar payudaranya, “aahh…, aahh”.
Diapun mendesis panjang tanpa
melepas BH-nya saya langsung
mengangkat BH-nya sehingga
BH-nya berada di atas
payudaranya, sungguh pemandangan yang amat
menakjubkan, dia mempunyai
payudara yang besar dan puting
yang berwarna kemerahan dan
menjulang keluar kira-kira 1/2
cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang
bahwa tidak semua perempuan
nanti menyusui baru keluar
putingnya). Saya jilat kedua
payudaranya sambil saya gigit
dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah.
“Aahh…, sakkiitt…”, tapi saya
tidak ambil pusing tetap saya
gigit dengan keras. Akhirnya
diapun langsung berdiri sambil
sedikit melotot kepadaku. Sekarang payudara dia berada
tepat di depan wajah saya.
Sambil saya memandangi
wajahnya yang sedikit marah,
kedua tanganku langsung
meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali
mendesis, “Ahh…, aahh…”,
kemudian saya tarik
payudaranya dekat ke wajah
saya sambil saya gigit pelan-
pelan. Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya
tepiskan. Sekelebat mata saya
menangkap bahwa pintu ruang
tamunya belum tertutup saya
pun menyuruh dia untuk penutup
pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi
menutup pintu dengan
mengendap-endap karena
bajunya tetap terangkat sambil
memperlihatkan kedua bukit
kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat
payudara yang seperti itu. Setelah mengunci pintu dia pun
kembali berjalan menuju saya.
Saya pun langsung
menyambutnya dengan
memegang kembali kedua
payudaranya dengan kedua tangan saya tapi tetap dalam
keadaan berdiri saya jilati
kembali payudaranya. Setelah
puas mulut saya pun turun ke
perutnya dan tangan saya
pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil
terus menjilati perutnya sesekali
mengisap puting payudaranya.
Tangan sayapun menggosok-
gosok selangkangannya langsung
saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah
pahanya yang mulus sekali dan
CD-nya yang berwarna putih
saya remas-remas liang
kewanitaannya dengan terburu
buru, dia pun makin keras mendesis, “aahh…, aakkhh…
ohh…, nikmat sekali…”, dengan
pelan-pelan saya turunkan cdnya
sambil saya tunggu reaksinya
tetapi ternyata dia cuma diam
saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan).
Terlihatnya liang kewanitaannya
yang ditumbuhi bulu-bulu tapi
sangat sedikit. Sayapun
menjilatinya dengan penuh nafsu,
diapun makin berteriak, “Aakkhh…, akkhh…, lagi…, lagii..”. Setelah puas sayapun
menyuruhnya duduk di lantai
sambil saya membuka kancing
celanaku dan saya turunkan
sampai lutut terlihatlah CD-ku,
saya tuntun tangannya untuk mengelus penis saya yang sudah
sangat tegang sehingga
sepertinya mau loncat dari CD-
ku. Diapun mengelusnya terus
mulai memegang penis saya. Saya
turunkan CD-ku maka penis saya langsung berkelebat keluar
hampir mengenai mukanya.
Diapun kaget sambil melotot
melihat penis saya yang
mempunyai ukuran lumayan
besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya
menyuruhnya untuk melepas
kaos yang dia kenakan dan
roknya juga seperti dipangut dia
menurut saja apa yang saya
suruh lakukan. Dengan terburu- buru saya pun melepas semua
baju saya dan celana saya
kemudian karena dia duduk
dilantai sedangkan saya dikursi,
saya tuntun penis saya ke
wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh
untuk membuka mulutnya tapi
kayaknya dia ragu-ragu. Setengah memaksa, saya tarik
kepalanya akhirnya penisku
masuk juga kedalam mulutnya
dengan perlahan dia mulai
menjilati penis saya, langsung
saya teriak pelan, “Aakkhh…, aakkhh…”, sambil ikut membantu
dia memaju-mundurkan penis
saya di dalam mulutnya. “aakk…,
akk…, nikmat sayyaangg…”.
Setelah agak lama akhirnya saya
suruh berdiri dan melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di
wajahnya sedikit gombal
akhirnya CD dan BH-nya dia
lepaskan juga maka telanjang
bulatlah dia depanku sambil
berdiri. Sayapun tak mau ketinggalan saya langsung berdiri
dan langsung melepas CD-ya.
Saya langsung menubruknya
sambil menjilati wajahnya dan
tangan saya meremas-remas
kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang,
diapun mendesis, “Aahh…,
aahh…, aahh…, aahh”, sewaktu
tangan kananku saya turunkan
ke liang kemaluannya dan
memainkan jari-jariku di sana. Setelah agak lama baru saya
sadar bahwa jari saya telah
basah. Saya pun menyuruhnya
untuk membelakangiku dan saya
siapkan penis saya. Saya
genggam penis saya menuju liang senggamanya dari belakang.
Saya sodok pelan-pelan tapi
tidak maumasuk-masuk saya
sodok lagi terus hingga dia pun
terdorong ke tembok
tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar dia
mendesis, “Aahh…, ssaayaa..,.
ssaayaangg…, kaammuu…”,
sayapun terus menyodok dari
belakang. Mungkin karena kering
penis saya nggak mau masuk- masuk juga saya angkat penis
saya lalu saya ludahi tangan
saya banyak-banyak dan saya
oleskan pada kepala penissaya
dan batangnya dia cuma
memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Saya genggam
penis saya menuju liang
senggamanya kembali. Pelan-
pelan saya cari dulu lubangnya
begitu saya sentuh lubang
kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, “Ahh…,
aahh…”, saya tuntun penis saya
menuju lubang senggamanya itu
tapi saya rasakan baru masuk
kepalanya saja diapun langsung
menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan
yang keras saya sodok kuat-
kuat lalu saya rasa penis saya
seperti menyobek sesuatu maka
langsung saja dia berontak
sambil berteriak setengah menangis, “Ssaakkiitt…”. Saya
rasakan penis saya sepertinya
dijepit oleh dia keras sekali
hingga kejantanan saya terasa
seperti lecet di dalam
kewanitaannya. Saya lalu bertahan dalam posisi saya dan
mulai kembali menyiuminya sambil
berkata “Tahann.. sayang…
cuman sebentar kok…” Saya memegang kembali
payudaranya dari belakang
sambil saya remas-remas secara
perlahan dan mulut saya menjilati
belakangnya lalu lehernya
telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulut saya agak
lama. Kemudian dia mulai
mendesis kembali menikmati
ciuman saya dibadan dan
remasan tangan saya di
payudaranya, “Ahh…, aahh…, ahh…, kamu sayang sama
lakukan?” dia berkata sambil
melihat kepada saya dengan
wajah yang penuh pengharapan.
Saya cuma menganggukkan
kepala padahal saya lagi sedang menikmati penis saya di dalam
liang kewanitaannya yang sangat
nikmat sekali seakan-akan saya
lagi berada di suatu tempat yang
dinamakan surga. “Enak
sayang?”, kataku. Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap
mengeluarkan suara-suara
kenikmatan, “Aahh…, aahh…”
lalu saya mulai bekerja, saya
tarik pelan-pelan penis saya lalu
saya majukan lagi tarik lagi majukan lagi dia pun makin keras
mendesis, “Aahh…, ahh…,
ahhkkhh…” akhirnya ketika saya
rasakan bahwa dia sudah tidak
kesakitan lagi saya pun
mengeluar-masukkan penis saya dengan cepat dia pun semakin
melenguh menikmati semua yang
saya perbuat pada dirinya sambil
terus-meremas payudaranya
yang besar itu. Dia teriak
“Sayaa mauu keeluuarr…”. Sayapun berkata
“aahhkkssaayyaanggkkuu…”,
saya langsung saja sodok dengan
lebih keras lagi sampai-sampai
saya rasakan menyentuh dasar
dari liang senggamanya tapi saya benar-benar kesetanan tidak
peduli lagi dengan suara-suara,
“Ahh…, aahh…, ahh…, akkhh…,
akkhh…, truss” langsung dia
bilang “Sayyaa kkeelluuaarr…,
akkhh…, akhh…”, tiba-tiba dia mau jatuh tapi saya tahan
dengan tangan saya. Saya
pegangi pinggulnya dengan
kedua tangan saya sambil saya
kocok penis saya lebih cepat lagi,
“Akkhh…, akkhh…, ssaayyaa mauu…, kkeelluuaarr…, akkhh…”,
pegangan saya di pinggulnya
saya lepaskan dan langsung saja
dia terjatuh terkulai lemas. Dari penis saya menyemprotlah
air mani sebanyak-banyaknya,
“Ccroott…, croott.., ccrroott…,
akkhh…, akkhh…”, saya melihat
air mani saya membasahi
sebagian tubuhnya dan rambutnya, “Akhh…, thanks
sayangkuu…”, sambil berjongkok
saya cium pipinya sambil saya
suruh jilat lagi penisku. Diapun
menjilatinya sampai bersih.
Setelah itu saya bilang pakai pakaian kamu dengan malas dia
berdiri mengambil bajunya dan
memakainya kembali. Setelah kami berdua selesai saya
mengecup bibirnya sambil
berkata, “Saya pulang dulu yah
sampai besok sayang…!”. Dia
cuma mengangguk tidak
berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin nyesal tidak tahu ahh.
Saya lihat jam saya sudah
menunjukkan jam 23.35, saya
pulang dengan sejuta
kenikmatant
sekolah saya yaitu di SMPN 3. Ketika kami saling menjabat
tangan, gadis itu masih agak
malu-malu, saya lihat juga gadis
itu tingginya hanya sekitar 158
cm dan mempunyai dada yang
memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya sekitar 34B
(kalau tidak salah umurnya 14
tahun), mempunyai wajah yang
manis banget dan kulit walaupun
tidak terlalu putih tapi sangat
mulus, (sekedar info tinggi saya 165 cm dan umur waktu itu 16
tahun), saya berkata siapa
namamu?, dia jawab L—-
(edited), setelah berkenalan
akhirnya kami saling memberikan
nomor telepon masing-masing, besoknya setelah saling telepon
dan berkenalan akhirnya kami
berdua janjian keluar besok
harinya jalan pertama sekaligus
cinta pertama saya membuat
saya deg-degan tetapi namanya lelaki yah…, jalan terus dong. Akhirnya malam harinya sekitar
jam 19.00 saya telah berdiri
didepan rumahnya sambil
mengetuk pagarnya tidak lama
setelah itu L—-muncul dari balik
pintu sambil tersenyum manis sekali dia mengenakan kaos
ketat dan rok yang kira-kira
panjangnya hampir mencapai
lutut berwarna hitam.
Saya tanya, “Mana ortu
kamu…”, dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal
bersama papanya dan pembantu,
sedangkan kalau kakaknya dan
mamanya di kota lain.
“Oohh jawab saya,” saya tanya
lagi “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar
ada rapat lain di hotel (papanya
seorang pejabat kira-kira
setingkat dengan wagub) jadi
saat itu juga kami langsung jalan
naik motorku dan tanpa disuruhpun dia langsung memeluk
dari belakang, penis saya selama
jalan-jalan langsung tegang,
habis dada dia begitu kenyal
terasa di belakangku seakan-
akan memijit-mijit belakangku (motor waktu itu sangat
mendukung, yaitu RGR). Setelah keliling kota dan singgah
makan di tempat makan kami
langsung pulang ke rumahnya
setelah tiba saya lihat rumahnya
masih sepi mobil papanya belum
datang. Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk!.,
Papa saya kayaknya belum
datang”. Akhirnya setelah
menaruh motor saya langsung
mengikutinya dari belakang saya
langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di
depanku, saya lihat jam ternyata
sudah pukul 21.30, setiba di
dalam rumahnya saya lihat tidak
ada orang saya bilang
“Pembantu kamu mana?”, dia bilang kalau kamar pembantu itu
terpisah dari bangunan utama
rumah ini agak jauh ke belakang.
“oohh…”, jawab saya.
Saya tanya lagi, “jadi kalau
sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi
ke belakang?”, dia jawab iya.
“Terus Papa kamu yang bukain
siapa…”
“saya…” jawabnya.
“Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…”, tanya saya. Dia
bilang paling cepat juga jam
24.00. (Langsung saja pikiranku
ngeres banget)
Saya tanya lagi “Kamu memang
mau jadi pacar saya…”. Dia bilang “Iya…”.
Lalu saya bilang, “kalau gitu sini
dong dekat-dekat saya…”,
belum sampai pantatnya duduk di
kursi sebelahku, langsung saya
tarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget
sekali tapi belum sampai ngomong
apa-apa tanganku langsung
memegang payudaranya yang
benar-benar besar itu sambil
saya remas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet)
diapun mengeluh “Ohh.., oohh
sakit”. katanya. Saya langsung mengulum
telinganya sambil berbisik,
“Tahan sedikit yah…”, dia cuma
mengangguk. Payudaranya saya
remas dengan kedua tanganku
sambil bibir saya jilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya
langsung saya lumat-lumat
bibirnya yang agak seksi itu,
kamipun berpagutan saling
membenamkan lidah kami masing-
masing. Penis saya langsung saya rasakan menegang dengan
kerasnya. Saya mengambil
tangan kirinya dan menuntun
memegang penisku dibalik celana
saya, dia cuma menurut saja, lalu
saya suruh untuk meremasnya. Begitu dia remas, saya langsung
mengeluh panjang, “Uuhh…,
nikmat sayang”, kata saya.
“Teruss…”, dengan agak keras
kedua tanganku langsung
mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan
muka saya di antara
payudaranya, tapi masih
terhalang BH-nya saya jilati
payudaranya sambil saya gigit-
gigit kecil di sekitar payudaranya, “aahh…, aahh”.
Diapun mendesis panjang tanpa
melepas BH-nya saya langsung
mengangkat BH-nya sehingga
BH-nya berada di atas
payudaranya, sungguh pemandangan yang amat
menakjubkan, dia mempunyai
payudara yang besar dan puting
yang berwarna kemerahan dan
menjulang keluar kira-kira 1/2
cm dan keras, (selama saya main cewek baruku tahu sekarang
bahwa tidak semua perempuan
nanti menyusui baru keluar
putingnya). Saya jilat kedua
payudaranya sambil saya gigit
dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah.
“Aahh…, sakkiitt…”, tapi saya
tidak ambil pusing tetap saya
gigit dengan keras. Akhirnya
diapun langsung berdiri sambil
sedikit melotot kepadaku. Sekarang payudara dia berada
tepat di depan wajah saya.
Sambil saya memandangi
wajahnya yang sedikit marah,
kedua tanganku langsung
meremas kedua payudaranya dengan lembut. Diapun kembali
mendesis, “Ahh…, aahh…”,
kemudian saya tarik
payudaranya dekat ke wajah
saya sambil saya gigit pelan-
pelan. Diapun memeluk kepala saya tapi tangannya saya
tepiskan. Sekelebat mata saya
menangkap bahwa pintu ruang
tamunya belum tertutup saya
pun menyuruh dia untuk penutup
pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi
menutup pintu dengan
mengendap-endap karena
bajunya tetap terangkat sambil
memperlihatkan kedua bukit
kembarnya yang bikin hati siapa saja akan lemas melihat
payudara yang seperti itu. Setelah mengunci pintu dia pun
kembali berjalan menuju saya.
Saya pun langsung
menyambutnya dengan
memegang kembali kedua
payudaranya dengan kedua tangan saya tapi tetap dalam
keadaan berdiri saya jilati
kembali payudaranya. Setelah
puas mulut saya pun turun ke
perutnya dan tangan saya
pelan-pelan saya turunkan menuju liang senggamanya sambil
terus menjilati perutnya sesekali
mengisap puting payudaranya.
Tangan sayapun menggosok-
gosok selangkangannya langsung
saya angkat pelan-pelan rok yang dia kenakan terlihatlah
pahanya yang mulus sekali dan
CD-nya yang berwarna putih
saya remas-remas liang
kewanitaannya dengan terburu
buru, dia pun makin keras mendesis, “aahh…, aakkhh…
ohh…, nikmat sekali…”, dengan
pelan-pelan saya turunkan cdnya
sambil saya tunggu reaksinya
tetapi ternyata dia cuma diam
saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan).
Terlihatnya liang kewanitaannya
yang ditumbuhi bulu-bulu tapi
sangat sedikit. Sayapun
menjilatinya dengan penuh nafsu,
diapun makin berteriak, “Aakkhh…, akkhh…, lagi…, lagii..”. Setelah puas sayapun
menyuruhnya duduk di lantai
sambil saya membuka kancing
celanaku dan saya turunkan
sampai lutut terlihatlah CD-ku,
saya tuntun tangannya untuk mengelus penis saya yang sudah
sangat tegang sehingga
sepertinya mau loncat dari CD-
ku. Diapun mengelusnya terus
mulai memegang penis saya. Saya
turunkan CD-ku maka penis saya langsung berkelebat keluar
hampir mengenai mukanya.
Diapun kaget sambil melotot
melihat penis saya yang
mempunyai ukuran lumayan
besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm) saya
menyuruhnya untuk melepas
kaos yang dia kenakan dan
roknya juga seperti dipangut dia
menurut saja apa yang saya
suruh lakukan. Dengan terburu- buru saya pun melepas semua
baju saya dan celana saya
kemudian karena dia duduk
dilantai sedangkan saya dikursi,
saya tuntun penis saya ke
wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Saya suruh
untuk membuka mulutnya tapi
kayaknya dia ragu-ragu. Setengah memaksa, saya tarik
kepalanya akhirnya penisku
masuk juga kedalam mulutnya
dengan perlahan dia mulai
menjilati penis saya, langsung
saya teriak pelan, “Aakkhh…, aakkhh…”, sambil ikut membantu
dia memaju-mundurkan penis
saya di dalam mulutnya. “aakk…,
akk…, nikmat sayyaangg…”.
Setelah agak lama akhirnya saya
suruh berdiri dan melepaskan CD-nya tapi muncul keraguan di
wajahnya sedikit gombal
akhirnya CD dan BH-nya dia
lepaskan juga maka telanjang
bulatlah dia depanku sambil
berdiri. Sayapun tak mau ketinggalan saya langsung berdiri
dan langsung melepas CD-ya.
Saya langsung menubruknya
sambil menjilati wajahnya dan
tangan saya meremas-remas
kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang,
diapun mendesis, “Aahh…,
aahh…, aahh…, aahh”, sewaktu
tangan kananku saya turunkan
ke liang kemaluannya dan
memainkan jari-jariku di sana. Setelah agak lama baru saya
sadar bahwa jari saya telah
basah. Saya pun menyuruhnya
untuk membelakangiku dan saya
siapkan penis saya. Saya
genggam penis saya menuju liang senggamanya dari belakang.
Saya sodok pelan-pelan tapi
tidak maumasuk-masuk saya
sodok lagi terus hingga dia pun
terdorong ke tembok
tangannyapun berpangku pada tembok sambil mendengar dia
mendesis, “Aahh…, ssaayaa..,.
ssaayaangg…, kaammuu…”,
sayapun terus menyodok dari
belakang. Mungkin karena kering
penis saya nggak mau masuk- masuk juga saya angkat penis
saya lalu saya ludahi tangan
saya banyak-banyak dan saya
oleskan pada kepala penissaya
dan batangnya dia cuma
memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Saya genggam
penis saya menuju liang
senggamanya kembali. Pelan-
pelan saya cari dulu lubangnya
begitu saya sentuh lubang
kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, “Ahh…,
aahh…”, saya tuntun penis saya
menuju lubang senggamanya itu
tapi saya rasakan baru masuk
kepalanya saja diapun langsung
menegang tapi saya sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan
yang keras saya sodok kuat-
kuat lalu saya rasa penis saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: