ABG bule

Aku tinggal di salah satu kota di
Canada, kira-kira sudah hampir 6
tahun. Aku tinggal sendiri di salah
satu gedung apartemen dekat
down town area. Kamarnya satu,
ada ruang tamu, kitchen, balcon buat smoking, murah juga.
Kadang teman-teman menginap,
meminjam komputer, karena
milikku pentium ii, dan semua
software, games etc aku punya.
Jadi mereka betah nginep di sofa, atau bawa sleeping bed.
Also, aku punya 50 inch TV, DVD
player, Video, games dan lain-
lain, jadi tempat ini siip. Aku
bukan orang yang berada
banget,semua itu hadiah dari saudara-saudara yang ikut
bahagia karena aku bisa sekolah
disini. So, syukurlah. Mungkin karena apartemen dan
barang-barang electronic di
rumahku, aku dikagumi wanita-
wanita orang putih di sini. Dikira
aku loaded banget, alias rich boy.
Jadi banyak yang tidak nolak kalau aku ajak jalan. Bukannya
mau show-off, but aku bisa
mendapatkan perempuan yang
aku mau kapan saja, tapi aku
nggak mau perempuan yang
mencintaiku karana harta kekayaanku. Soal pacaran, aku tidak pernah
punya berlangsung lama, karena
aku salah gaul. Tiap-tiap wanita
yang aku pacarin, semuanya
mata duitan. Kalau tidak dibeliin
barang ini, atau itu, marah deh, terus mau putus. Jadi sudah
kira-kira 2 tahun aku tidak ada
gandengan.
Terus satu hari, aku menang
lotre $300. Aku pergi ngambil
duitnya dari salah satu gedung lotre tersebut dan jalan menuju
pulang. Waktu itu lagi agak
dingin, salju lagi turun sedikit-
sedikit. Terus, waktu lagi jalan,
tiba-tiba ada suara “Excuse me,
spare some change?” Aku lihat ke arah kiri, ada dua gadis lagi
duduk di lantai depan Starbucks
Cafe sambil tangannya di ulurkan
ke arahku. Yang satu lagi hanya
duduk merangkul kakinya. “Duh kasihan banget” pikirku.
Aku berhenti, meraba kantong
celanaku, dan aku keluarkan 2
helai $5.
“Ini, silakan”, aku bilang.
“Terima kasih Mas,” kata gadis yang memegang uang.
“Terima kasih kembali” kataku
lagi, sambil jalan pergi. Memang
benar, setelah aku memberi uang
tersebut, ada rasa yang hangat
dalam hati. Sesampai di apartemen, aku cari sleeping bag
bekas dan beberapa baju tebel.
Tapi saya lupa kalau semuanya
sudah kusumbang ke Salvation
Army beberapa minggu yang lalu.
Terus aku pikir, hmm, sudah mau natalan, teman-teman pada
pulang ke Indonesia, aku nggak
ada teman main…, gimana kalau
aku undang saja tu cewek. Lalu aku pergi ke tempat kedua
gadis itu. Tapi mereka sudah
nggak ada lagi. Aku lihat kiri dan
kanan dan ternyata kedua gadis
itu ada di depan McDonald’s,
sambil megang kantong buat memesan makanan. Aku tunggu
mereka di deket Starbucks Cafe,
dan sewaktu mereka melihatku
lagi, si gadis yang aku kasih uang
tadi senyum padaku dan bilang
“Hi, lagi ngapain Mas?, Traktir kita dong?” sambil tertawa.
Aku senyum saja “Oke, Nich beli
aja”. Si cewek yang aku kasih
duitnya, namanya Lily dan cewek
yang satunya lagi ternyata
adiknya, bernama Lianne. Lily berumur 17 dan Lianne berumur
14. Mereka datang dari kota lain
dengan cara hitchhike. Aku
jongkok dengan mereka,
ngobrol-ngobrol sebentar, sambil
nebeng makan kentang gorengnya yang di tawari Lianne. Kurang lebih setengah jam
kemudian, entah kemasukan apa,
aku ajak mereka ke
apartemenku untuk menginap.
Mereka kaget. Pertamanya sih
pada nggak mau, tapi abis aku yakinkan, bahwa aku tinggal
sendirian, tidak ada teman dan
bla bla bla, mereka akhirnya mau
juga. Sesampai di apartemenku,
mereka ber wah.., wah.., wah.
Aku dimintai handuk buat mandi.
Ternyata mereka nggak pakai
baju tebal-tebal banget. Si Lily
cuma memakai t-shirt Marilyn Manson, sweater gap yang kotor
dan jaket kulit, dan Lianne
memakai lebih tebal, mungkin
karena diberi sama Lily. Dua-duanya memang cakep sih,
kulitnya putih banget (habis
orang putih sih), nggak tinggi
banget, kira-kira 160 cm. Lily
berambut pirang kotor (dirty-
blonde) sebahu, dan Lianne berambut pirang terang, seleher
lebih dikit, agak berombak. Aku
beri 2 pasang t-shirtku dan
beberapa celana pendek milik
bekas pacarku. Mereka masuk ke
kamar mandi bersama dan dan aku cuek-cuek saja, habis adik-
kakak. Aku siapkan hot chocolate
dan cookies. Sehabis mereka keluar dari
kamar mandi, waduh, cantiknya
mereka berdua minus make-up
tebal, ikat rambut, dan garis-
garis hitam di muka. Seperti
mimpi degh. Belum pernah aku melihat kecantikan semacam itu.
Mungkin di majalah, dan film, tapi
mereka ada didepanku. Lily
memakai t-shirt GAP-ku yang
berwarna putih, tanpa bra,
karna aku bisa melihat putingnya yang pink dengan jelas. Lianne
memakai t-shirt Planet
Hollywoodku yang berwarna
putih juga dan without bra. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol
sambil minum hot choco. Lianne
orangnya pendiam, tapi senyum
terus. Kalau Lily agak energetic
dan bawel. Sewaktu kita
ngobrol-ngobrol, si Lianne berdiri dan berjalan menuju kulkas.
“Mau Minum Champagne?”
tanyanya.
“Boleh”, kataku, “Tapi.., kamu
kan masih anak-anak” kataku
sambil tertawa karena aku pikir si Lianne cuma bercanda. Dia buka botol champagne
tersebut dan meminumnya
sedikit, lalu dia bawa buat
kakaknya, Lily. “Gile, dikirain
becanda” pikirku. Beberapa jam kemudian, ruang
tamuku berasa agak panas,
soalnya heaternya rusak. Aku
meminta izin untuk tidur, tapi
dipaksa temenin ngobrol. Aku
suruh nonton TV saja, tapi mereka tidak mau. Kelihatannya
sih dua-duanyajuga sudah agak
mabuk, soalnya pipi mereka
merah banget, dan ngomongnya
sedikit ngacau. Terus aku suruh mereka tidur di
kamarku yang queen-sized bed,
dan aku tidur di sofa. Mereka
menarikku untuk tidur dengan
mereka. Waduh, rezeki, pikirku. Aku ikut saja, tiba-tiba mabuk
dan puyengku hilang! hehehehe,
mungkin karena pikiran kotor
dan feeling bahwa aku akan
score dengan mereka berdua. Kita tiduran di ranjangku, terus
aku memeluk Lily karena dia lebih
deket dengan tanganku. Aku
menciumnya dan dibalas juga
ciumanku. Tanganku bekerja dari
rambutnya, leher, sampai payudaranya yang lumayan
besar buat anak 17 tahun.
Kulepas T-shirtnya dengan cepat
karna sudah napsu banget Lama
tidak dapat! Kusedot-sedot dengan kencang
puting susunya, dan Lily merintih
rintih Aku melirik ke arah Lianne,
ternyata dia berbaring sambil
nontonin kita. Aku cuek saja dan
nerusin plorotin celana dan celana dalam Lily. Bulu
kemaluannyamasih jarang-jarang
dan berwarna pirang juga. Hmm..,
lezat…, sudah lama nggak dapat
nih, pikirku sambil memainkan
lidahku di liang kenikmatannya yang sudah merah. Kumainkan
lidahku di clitorisnya dengan
cepat, dan lily merintih rintih.
Rintihannya semakin membuatku
buas. Aku keluarkan teknik
cunnilingus yang diajari teman jepangku, “teknik meminum air”.
Lily meraung raung seperti orang
kesetanan, tangannya
menjambak rambutku dan
pinggangnya naik turun. Setelah
dia beberapa kali orgasme, aku cium seluruh tubuhnya sampai
bibirnya. Terus dia berkata “do
my sister” Aku melihat ke arah Lianne dan
dia sudah telanjang dan bermain
dengan klitorisnya. Aku cium dan
sedot payudaranya yang masih
belum matang (maklum 14
tahun), dengan putingnya yang pink. Lianne menggigit bibir
bawahnya, menahan rasa
ekstasi. Pelan-pelan kucium
seluruh tubuhnya sampai ke arah
liang kewanitaannya. Wah, merah
dan rapet banget! rezeki besar. Kumainkan lidahku di liang
kewanitaannya, bermain di
clitorisnya. Lianne merintih-rintih.
Aku keluarkan tehnik meminum
airku sampai lianne orgasme dua
kali juga. Kemudian aku berbaring dan
kakak-adik itu menciumi seluruh
tubuhku. Aduh, aku merasa
duniaku akan hancur, saking
enaknya. Sampai mereka lepas
celana boxerku dan bermain dengan penis dan bolaku. penisku
nggak besar-besar banget sih,
normal buat orang bule! he.., he..,
he.., he.., kira-kira 7 inchi, tebal
dan berurat. Mereka berdua
berebut penisku, dan akhirnya aku menarik Lianne buat duduk
di mukaku. Lianne membuka
kakinya dimukaku dan aku bagai
disurga! setelah Lianne orgasme
lagi, aku tidurkan dia di
sampingku, dan aku suruh Lily untuk naik menunggangiku.
Dengan pelan-pelan, Lily naik
memasukkan penisku ke liang
kenikmatannya dengan susah. Setelah kusuruh dia membasahi
penisku dengan ludahnya,
akhirnya amblas juga penisku.
Setelah masuk penisku
semuanya, pelan-pelan aku naik
turun dan bergerak memutar, sambil memijat-mijat payudara
Lily yang tegak dan kenyal. Aku
pelukLily sambil menghunjam
penisku dengan cepat. Lily
berteriak teriak keenakan sambil
cursing. Kusuruh dia berbalik, punggungnya menghadap
dadaku. My favorite position. Aku
naik turun dengan cepat juga
sambil aku menyuruh Lily untuk
menggoyangkan pinggulnya
sambil memijit-mijit payudaranya. Entah berapa kali aku merasakan
sesuatu yang hangat di penisku
dan Lily berteriak, “Aahh…
fuck… shit! Saya rasa dia orgasme sampai 3
kali! Aku jilat cairan
kewanitaannya sampai bersih,
terus pindah ke Lianne. Aku jilat
dan basahi lagi liang
kewanitaannya yang masih merah dan berdenyut-denyut.
Aku coba untuk memasukkan
penisku tapi liang senggama
Lianne masih kecil banget. Aku
naik ke mulut Lianne dan
menyuruh buat mengisap dan membasahi penisku. Dengan mata
tertutup setengah sadar, dia
melakukannya. Setelah cukup
basah, aku coba lagi. Sempit
banget! tapi senti demi senti
masuk semuanya juga Lianne meraung-raung kesakitan. Aku
goyang pelan-pelan, sambil
menyedot puting susunya yang
masih pink dan muda banget,
missionary style. Terus aku menyuruhnya berbalik,
doggie style, tanpa melepas
penisku dari liang kewanitaannya.
Aku dorong-dorong, memutar,
naik turun seperti rodeo, sambil
memeluk tubuh Lianne yang meronta-ronta seperti ikan
kehabisan air aku cium
rambutnya, menggigit gigit pelan
bahunya dan memainkan jari-
jariku di kelentitnya. Sekitar 20 menit kemudian,
setelah beberapa gaya dan
setelah Lianne orgasme untuk ke
entah berapa kalinya, aku keluar
juga. Aku tiduri mereka berdua
side by side dan memuncratkan spermaku ke muka mereka. Sehabis itu kita tidur, tapi aku
belum puas juga dengan Lianne
yang liang kenikmatannya sangat
rapat. Dengan posisi 69 aku
bermain dengan liang surganya,
entah sampai berapa lama. Besoknya, di meja makan, kita
ketawa-tawa dan bercanda-
canda. Tapi malamnya, mereka
bercerita apa yang sebenarnya
terjadi pada mereka. Ternyata
mereka di perkosa oleh pacar ibu mereka, dan mereka lari dari
rumah. Selama 5 hari penuh
berpesta seks, aku akhirnya
menyuruh mereka untuk telepon
pulang. Setelah lama aku bujuk,
akhirnya mereka telepon pulang. Ibu mereka khawatir sekali dan
ingin mereka pulang segera.
Pacar ibunya sudah di tangkap
oleh yang berwenang. Aku beri $100 buat Lily dan
Lianne, untuk uang saku dan
ongkos naik bus. Setelah itu, aku
antar ke Bus Station, dan
mereka said bye-bye dengan
ciuman mesra di pipi kiri dan kanan.oking, murah juga.
Kadang teman-teman menginap,
meminjam komputer, karena
milikku pentium ii, dan semua
software, games etc aku punya.
Jadi mereka betah nginep di sofa, atau bawa sleeping bed.
Also, aku punya 50 inch TV, DVD
player, Video, games dan lain-
lain, jadi tempat ini siip. Aku
bukan orang yang berada
banget,semua itu hadiah dari saudara-saudara yang ikut
bahagia karena aku bisa sekolah
disini. So, syukurlah. Mungkin karena apartemen dan
barang-barang electronic di
rumahku, aku dikagumi wanita-
wanita orang putih di sini. Dikira
aku loaded banget, alias rich boy.
Jadi banyak yang tidak nolak kalau aku ajak jalan. Bukannya
mau show-off, but aku bisa
mendapatkan perempuan yang
aku mau kapan saja, tapi aku
nggak mau perempuan yang
mencintaiku karana harta kekayaanku. Soal pacaran, aku tidak pernah
punya berlangsung lama, karena
aku salah gaul. Tiap-tiap wanita
yang aku pacarin, semuanya
mata duitan. Kalau tidak dibeliin
barang ini, atau itu, marah deh, terus mau putus. Jadi sudah
kira-kira 2 tahun aku tidak ada
gandengan.
Terus satu hari, aku menang
lotre $300. Aku pergi ngambil
duitnya dari salah satu gedung lotre tersebut dan jalan menuju
pulang. Waktu itu lagi agak
dingin, salju lagi turun sedikit-
sedikit. Terus, waktu lagi jalan,
tiba-tiba ada suara “Excuse me,
spare some change?” Aku lihat ke arah kiri, ada dua gadis lagi
duduk di lantai depan Starbucks
Cafe sambil tangannya di ulurkan
ke arahku. Yang satu lagi hanya
duduk merangkul kakinya. “Duh kasihan banget” pikirku.
Aku berhenti, meraba kantong
celanaku, dan aku keluarkan 2
helai $5.
“Ini, silakan”, aku bilang.
“Terima kasih Mas,” kata gadis yang memegang uang.
“Terima kasih kembali” kataku
lagi, sambil jalan pergi. Memang
benar, setelah aku memberi uang
tersebut, ada rasa yang hangat
dalam hati. Sesampai di apartemen, aku cari sleeping bag
bekas dan beberapa baju tebel.
Tapi saya lupa kalau semuanya
sudah kusumbang ke Salvation
Army beberapa minggu yang lalu.
Terus aku pikir, hmm, sudah mau natalan, teman-teman pada
pulang ke Indonesia, aku nggak
ada teman main…, gimana kalau
aku undang saja tu cewek. Lalu aku pergi ke tempat kedua
gadis itu. Tapi mereka sudah
nggak ada lagi. Aku lihat kiri dan
kanan dan ternyata kedua gadis
itu ada di depan McDonald’s,
sambil megang kantong buat memesan makanan. Aku tunggu
mereka di deket Starbucks Cafe,
dan sewaktu mereka melihatku
lagi, si gadis yang aku kasih uang
tadi senyum padaku dan bilang
“Hi, lagi ngapain Mas?, Traktir kita dong?” sambil tertawa.
Aku senyum saja “Oke, Nich beli
aja”. Si cewek yang aku kasih
duitnya, namanya Lily dan cewek
yang satunya lagi ternyata
adiknya, bernama Lianne. Lily berumur 17 dan Lianne berumur
14. Mereka datang dari kota lain
dengan cara hitchhike. Aku
jongkok dengan mereka,
ngobrol-ngobrol sebentar, sambil
nebeng makan kentang gorengnya yang di tawari Lianne. Kurang lebih setengah jam
kemudian, entah kemasukan apa,
aku ajak mereka ke
apartemenku untuk menginap.
Mereka kaget. Pertamanya sih
pada nggak mau, tapi abis aku yakinkan, bahwa aku tinggal
sendirian, tidak ada teman dan
bla bla bla, mereka akhirnya mau
juga. Sesampai di apartemenku,
mereka ber wah.., wah.., wah.
Aku dimintai handuk buat mandi.
Ternyata mereka nggak pakai
baju tebal-tebal banget. Si Lily
cuma memakai t-shirt Marilyn Manson, sweater gap yang kotor
dan jaket kulit, dan Lianne
memakai lebih tebal, mungkin
karena diberi sama Lily. Dua-duanya memang cakep sih,
kulitnya putih banget (habis
orang putih sih), nggak tinggi
banget, kira-kira 160 cm. Lily
berambut pirang kotor (dirty-
blonde) sebahu, dan Lianne berambut pirang terang, seleher
lebih dikit, agak berombak. Aku
beri 2 pasang t-shirtku dan
beberapa celana pendek milik
bekas pacarku. Mereka masuk ke
kamar mandi bersama dan dan aku cuek-cuek saja, habis adik-
kakak. Aku siapkan hot chocolate
dan cookies. Sehabis mereka keluar dari
kamar mandi, waduh, cantiknya
mereka berdua minus make-up
tebal, ikat rambut, dan garis-
garis hitam di muka. Seperti
mimpi degh. Belum pernah aku melihat kecantikan semacam itu.
Mungkin di majalah, dan film, tapi
mereka ada didepanku. Lily
memakai t-shirt GAP-ku yang
berwarna putih, tanpa bra,
karna aku bisa melihat putingnya yang pink dengan jelas. Lianne
memakai t-shirt Planet
Hollywoodku yang berwarna
putih juga dan without bra. Setelah itu kita ngobrol-ngobrol
sambil minum hot choco. Lianne
orangnya pendiam, tapi senyum
terus. Kalau Lily agak energetic
dan bawel. Sewaktu kita
ngobrol-ngobrol, si Lianne berdiri dan berjalan menuju kulkas.
“Mau Minum Champagne?”
tanyanya.
“Boleh”, kataku, “Tapi.., kamu
kan masih anak-anak” kataku
sambil tertawa karena aku pikir si Lianne cuma bercanda. Dia buka botol champagne
tersebut dan meminumnya
sedikit, lalu dia bawa buat
kakaknya, Lily. “Gile, dikirain
becanda” pikirku. Beberapa jam kemudian, ruang
tamuku berasa agak panas,
soalnya heaternya rusak. Aku
meminta izin untuk tidur, tapi
dipaksa temenin ngobrol. Aku
suruh nonton TV saja, tapi mereka tidak mau. Kelihatannya
sih dua-duanyajuga sudah agak
mabuk, soalnya pipi mereka
merah banget, dan ngomongnya
sedikit ngacau. Terus aku suruh mereka tidur di
kamarku yang queen-sized bed,
dan aku tidur di sofa. Mereka
menarikku untuk tidur dengan
mereka. Waduh, rezeki, pikirku. Aku ikut saja, tiba-tiba mabuk
dan puyengku hilang! hehehehe,
mungkin karena pikiran kotor
dan feeling bahwa aku akan
score dengan mereka berdua. Kita tiduran di ranjangku, terus
aku memeluk Lily karena dia lebih
deket dengan tanganku. Aku
menciumnya dan dibalas juga
ciumanku. Tanganku bekerja dari
rambutnya, leher, sampai payudaranya yang lumayan
besar buat anak 17 tahun.
Kulepas T-shirtnya dengan cepat
karna sudah napsu banget Lama
tidak dapat! Kusedot-sedot dengan kencang
puting susunya, dan Lily merintih
rintih Aku melirik ke arah Lianne,
ternyata dia berbaring sambil
nontonin kita. Aku cuek saja dan
nerusin plorotin celana dan celana dalam Lily. Bulu
kemaluannyamasih jarang-jarang
dan berwarna pirang juga. Hmm..,
lezat…, sudah lama nggak dapat
nih, pikirku sambil memainkan
lidahku di liang kenikmatannya yang sudah merah. Kumainkan
lidahku di clitorisnya dengan
cepat, dan lily merintih rintih.
Rintihannya semakin membuatku
buas. Aku keluarkan teknik
cunnilingus yang diajari teman jepangku, “teknik meminum air”.
Lily meraung raung seperti orang
kesetanan, tangannya
menjambak rambutku dan
pinggangnya naik turun. Setelah
dia beberapa kali orgasme, aku cium seluruh tubuhnya sampai
bibirnya. Terus dia berkata “do
my sister” Aku melihat ke arah Lianne dan
dia sudah telanjang dan bermain
dengan klitorisnya. Aku cium dan
sedot payudaranya yang masih
belum matang (maklum 14
tahun), dengan putingnya yang pink. Lianne menggigit bibir
bawahnya, menahan rasa
ekstasi. Pelan-pelan kucium
seluruh tubuhnya sampai ke arah
liang kewanitaannya. Wah, merah
dan rapet banget! rezeki besar. Kumainkan lidahku di liang
kewanitaannya, bermain di
clitorisnya. Lianne merintih-rintih.
Aku keluarkan tehnik meminum
airku sampai lianne orgasme dua
kali juga. Kemudian aku berbaring dan
kakak-adik itu menciumi seluruh
tubuhku. Aduh, aku merasa
duniaku akan hancur, saking
enaknya. Sampai mereka lepas
celana boxerku dan bermain dengan penis dan bolaku. penisku
nggak besar-besar banget sih,
normal buat orang bule! he.., he..,
he.., he.., kira-kira 7 inchi, tebal
dan berurat. Mereka berdua
berebut penisku, dan akhirnya aku menarik Lianne buat duduk
di mukaku. Lianne membuka
kakinya dimukaku dan aku bagai
disurga! setelah Lianne orgasme
lagi, aku tidurkan dia di
sampingku, dan aku suruh Lily untuk naik menunggangiku.
Dengan pelan-pelan, Lily naik
memasukkan penisku ke liang
kenikmatannya dengan susah. Setelah kusuruh dia membasahi
penisku dengan ludahnya,
akhirnya amblas juga penisku.
Setelah masuk penisku
semuanya, pelan-pelan aku naik
turun dan bergerak memutar, sambil memijat-mijat payudara
Lily yang tegak dan kenyal. Aku
pelukLily sambil menghunjam
penisku dengan cepat. Lily
berteriak teriak keenakan sambil
cursing. Kusuruh dia berbalik, punggungnya menghadap
dadaku. My favorite position. Aku
naik turun dengan cepat juga
sambil aku menyuruh Lily untuk
menggoyangkan pinggulnya
sambil memijit-mijit payudaranya. Entah berapa kali aku merasakan
sesuatu yang hangat di penisku
dan Lily berteriak, “Aahh…
fuck… shit! Saya rasa dia orgasme sampai 3
kali! Aku jilat cairan
kewanitaannya sampai bersih,
terus pindah ke Lianne. Aku jilat
dan basahi lagi liang
kewanitaannya yang masih merah dan berdenyut-denyut.
Aku coba untuk memasukkan
penisku tapi liang senggama
Lianne masih kecil banget. Aku
naik ke mulut Lianne dan
menyuruh buat mengisap dan membasahi penisku. Dengan mata
tertutup setengah sadar, dia
melakukannya. Setelah cukup
basah, aku coba lagi. Sempit
banget! tapi senti demi senti
masuk semuanya juga Lianne meraung-raung kesakitan. Aku
goyang pelan-pelan, sambil
menyedot puting susunya yang
masih pink dan muda banget,
missionary style. Terus aku menyuruhnya berbalik,
doggie style, tanpa melepas
penisku dari liang kewanitaannya.
Aku dorong-dorong, memutar,
naik turun seperti rodeo, sambil
memeluk tubuh Lianne yang meronta-ronta seperti ikan
kehabisan air aku cium
rambutnya, menggigit gigit pelan
bahunya dan memainkan jari-
jariku di kelentitnya. Sekitar 20 menit kemudian,
setelah beberapa gaya dan
setelah Lianne orgasme untuk ke
entah berapa kalinya, aku keluar
juga. Aku tiduri mereka berdua
side by side dan memuncratkan spermaku ke muka mereka. Sehabis itu kita tidur, tapi aku
belum puas juga dengan Lianne
yang liang kenikmatannya sangat
rapat. Dengan posisi 69 aku
bermain dengan liang surganya,
entah sampai berapa lama. Besoknya, di meja makan, kita
ketawa-tawa dan bercanda-
canda. Tapi malamnya, mereka
bercerita apa yang sebenarnya
terjadi pada mereka. Ternyata
mereka di perkosa oleh pacar ibu mereka, dan mereka lari dari
rumah. Selama 5 hari penuh
berpesta seks, aku akhirnya
menyuruh mereka untuk telepon
pulang. Setelah lama aku bujuk,
akhirnya mereka telepon pulang. Ibu mereka khawatir sekali dan
ingin mereka pulang segera.
Pacar ibunya sudah di tangkap
oleh yang berwenang. Aku beri $100 buat Lily dan
Lianne, untuk uang saku dan
ongkos naik bus. Setelah itu, aku
antar ke Bus Station, dan
mereka said bye-bye dengan
ciuman mesra di pipi kiri dan kanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: