wanita karir

ini adalah kisah
kehidupan dan pengalaman sex
aku selanjutnya. Setelah 5 pengalamanku sebelumnya
sudah aku tuangkan di dalam
situs ini (Kisah bersama wanita
sebaya, Mantan anak ibu kost,
Liarnya wanita setangah baya
1-2, Ica anak seorang pejabat, Nikmatnya bercinta di kantor
1-2), mungkin berikut ini
adalah kisah selanjutnya dari
beberapa kejadian yang
mewarnai kehidupan sex aku.
***** Entah kenapa, semakin aku sering melakukan Making
Love dengan seseorang,
membuat kehidupan sex aku
bersama istriku semakin
romantis saja. Dan entah
semua itu semakin bisa aku nikmati. Mungkin semua ini
adalah dampak dari terlalu
tingginya libidoku sehingga
saat aku lagi mood, tidak
jarang setelah siangnya atau
sorenya aku melakukan dengan teman kencanku,
malamnya aku ganti
menservice istriku. Aku selalu
bersyukur mempunyai
kelebihan dalam urusan
bercinta. Ditambah pengetahuan sex aku yang
aku dapatkan dari film BF,
buku-buku sampai obrolan-
obrolan dengan teman di
kantor, membuat aku semakin
bisa menyelami tentang apa itu sex. Sehingga aku benar-benar
fasih dalam menerjemah apa
yang aku dapat dari
pengetahuan tentang sex. Itu
terbukti dengan keluarnya
banyak pujian dari para teman making love aku. Rata-rata
mereka sangat puas saat
bercinta denganku, dan
mereka menemukan,
merasakan dan menikmati
sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan
dalam masalah sex. *****
Cerita ini berawal dari
perkenalanku dengan seorang
ibu rumah tangga, yang entah
bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui
nomor cellulerku. Siang itu saat
aku sedang menikmati masa
istirahatku di kantin, tiba-tiba
cellulerku berbunyi. “Hallo,
selamat siang Dandy” suara perempuan yang manja
terdengar. “Hallo juga, siapa ya
ini?” tanyaku serius. “Namaku
Maya” kata perempuan
tersebut mengenalkan diri.
“Maaf, Mbak Maya tahu nomor HP saya darimana?” tanyaku
menyelidik. “Oya, aku temannya
Via dan dari dia aku dapat
nomor kamu” jelasnya. “Ooo,
Mbak Via” kataku datar. Aku
mengingat kembali kisahku sebelumnya yang berjudul
Kisah bersama Ibu Muda. Via
seorang sekretaris yang juga
ikut ‘mewarnai’ kehidupan sex
aku. “Gimana khabar Mbak
Via?” tanyaku. “Baik, dia titip salam kangen sama kamu” jelas
Maya. Sekitar 5 menit, kami
berdua mengobrol layaknya
orang yang sudah kenal lama.
Suara Maya yang lembut dan
manja, membuat aku menerka- nerka bagaimana bentuk fisik
dari wanita tersbut. Saat aku
membayangkan bentuk
fisiknya, Maya membuyarkan
lamunanku. “Hallo.. Dandy, kamu
masih disitu?” tanya Maya. “Iya.. iya Mbak..” kataku gugup.
“Hayo mikir siapa, lagi mikirin
Via ya?” tanyanya
menggodaku. “Nggak kok,
malahan mikirin Mbak Maya
tuh” celetukku. “Masa sih.. Jadi GR nih” dengan suara yang
menggoda. “Dandy, boleh kan
kalau aku mau ketemu kamu?”
tanya Maya. “Boleh aja Mbak..
Dengan senang hati” jawabku
semangat. “Oke deh, kita mau ketemuan dimana?” tanyanya
semangat. “Terserah Mbak
deh, Dandy ngikut aja”
jawabku pasrah. “Oke deh,
nanti sore aku tunggu kamu di
excelso di Tunjungan Plasa” katanya. “Oke, sampai nanti
Dandy.. Aku tunggu jan 18.00”
sambil berkata demikian, HP
nya langsung off. Waktu
menunjukkan pukul 16.30, tiba
saatnya aku pulang kantor dan segera meluncur ke
Tunjungan Plaza. Sebelumnya
aku prepare di kantor, aku
mandi dan membersihkan diri
setelah seharian aku bekerja.
Untuk perlengkapan mandi, memang setiap hari aku
membawa karena memang aku
sering olahraga setelah jam
kantor. Tiba di TP, aku segera
memarkir mobil starletku yang
butut di lantai 3. Jam ditanganku menunjukkan pukul
18 kurang seperempat. Aku
segera menuju ke excellso
seperti yang dikatakan Maya.
Aku segera mengambil tempat
duduk disisi pagar kaca, sehingga aku bisa melihat
orang hilir mudik di area
pertokoan terbesar di
Surabaya ini. Saat mataku
melihat situasi di sekelilingku,
bola mataku berhenti pada seorang wanita setengah baya
yang duduk sendirian. Menurut
tebakan aku, wanita ini
berumur sekitar 35 tahun ke
atas. Wajahnya yang lumayan
putih, membuat aku tertegun. Mataku yang mulai nakal,
berusaha menjelajahi
pemandangan yang sangat
menggiurkan di depanku.
Kakinya yang jenjang,
ditambah dengan belahan pahanya yang putih di balik
rok mininya, membuat semakin
aku gemas. Dalam hatiku, wah
betapa bahagianya aku jika
orang tersebut adalah Maya
yang menghubungi aku siang tadi. Disaat aku membayangkan
sosok di depan mataku, tiba-
tiba wanita itu berdiri dan
menghampiri tempat dudukku.
Dadaku berdegup kencang
ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk
semeja dengan aku. “Maaf,
kamu Dandy ya?” tanyanya
sambil menatapku. “Iy.. iyaa..
Kamu Maya?” tanyaku balik
sambil berdiri. Jarinya yang lentik menyentuh tanganku
untuk bersalaman dan darahku
terasa mendesir ketika
tangannya yang halus
meremas tanganku dengan
halus. “Silahkan duduk May” kataku sambil menarik satu
bangku di depanku. “Terima
kasih” kata Maya sambil
tersenyum. “Dari tadi anda
duduk disitu kok tidak
langsung kesini?” tanyaku. “Aku tadi sempat ragu, apakah
kamu memang Dandy” jelasnya.
“Aku tadi juga berpikir, apakah
wanita yang cakep ini kamu?”
kataku sambil senyum. Kami
bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa
diceritakan, kadang-kadang
kami berdua saling canda,
saling menggoda dan sesekali
bicara yang ‘nyerempet’ ke
arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah sempurna
saja wajahnya yang semakin
matan. Dari pembicaraan
tersebut, terungkaplah kalau
Maya adalah seorang wanita
yang sedang tugas di Surabaya. Maya adalah
seorang pengusaha dan
kebetulan selama 3 hari dinas
di Surabaya. “May, kamu kenal
Via dimana?” tanyaku mnyelidik.
“Via adalah teman chattingku di YM, aku dan via sering
online bersama. Dan kami
terbuka satu sama lain dalam
hal apapun. Begitu juga untuk
kisah rumah tangga, bahkan
masalah sex sekalipun.” mulut mungil Maya menjelaskan
dengan penuh semangat. “OOo,
begitu..” kataku sambil
manggut-manggut. “Ini adalah
hari pertamaku di Surabaya
dan aku berencana menginap 3 hari, sampai urusan kantorku
selesai” jelasnya tanpa aku
tanya. “Sebenarny tadi Via
juga mau dateng tetapi
karena ada acara keluarga,
mungkin besok baru bisa dateng” jelasnya kembali.
“Memang Mbak Maya nginap
dimana?” tanyaku. “Kebetulan
sama perwakilan kantor disini,
di bookingin di Hotel E..”
jelasnya. “Mmm, emang Mbak sama sapa sih?” tanyaku
menyelidik. “Ya sendirilah,
Dandy.. Makanya saat itu aku
tanya Via” kata Maya. “Tanya
apa?” tanyaku mengejar.
“Apakah punya teman yang bisa temanin aku selama di
Surabaya” kata Maya. “Dan
dari situlah aku tahu nomor
celluler kamu” lanjutnya. Tanpa
terasa jam tanganku
menunjukkan pukul 21.15 wib, dan aku liat sekelilingku
pertokoan mulai sepi karena
memang sudah mau tutup.
“Dan.. Kamu mau anter aku
balik ke hotel?” tanya Maya.
“Boleh, masa iya aku tega biarin Mbak Maya sendirian
balik ke hotel” kataku. Setelah
obrolan singkat, kami segera
menuju parkiran mobil dan
segera meluncur ke Hotel E..
Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Tunjungan Plasa.
Aku dan Maya bergegas
menuju lift untuk naik ke
lantai 3, dan sesampainya di
kamar nomor 306, Maya
menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang
menggugah syaraf kelaki-
lakianku serasa berontak
ketika aku berjalan di
belakangnya. “Silahkan duduk
Dan, aku mau mandi dulu” kata Maya sambil melempar tas
kecilnya, diatas ranjang.
Mataku menyelidik, apakah
benar Maya sendirian dalam
kamar. Dan memang benar
kelihatannya dia sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih
rapi, nampak hanya beberapa
helai gaun yang berada di atas
ranjang. Saat mataku masih
asyik menjelajahi ruangan
kamar Maya, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan
hanya mengenakan sehelai
handuk yang menutupi
tubuhnya yang molek. “Dandy,
aku minta tolong nih buangan
airnya di bathup nggak bisa dibuang” kata Maya sambil
tetap berdiri di muka pintu
kamar mandi. Aku segera
bangkit dari dudukku dan
berjalan menuju kamar mandi.
Ketika aku melewati tubuh Maya, mataku yang nakal
sedikit mencuri pandang di
belahan dada Maya yang
terkesan menyembul keluar
karena terhimpit ketatnya
handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux
kuning merasuk menusuk
hidungku, aku segera menuju
bathup yang dimaksud oleh
Maya. Aku menggunakan
tangkai sendok untuk mencungkil karet penutup
bathup yang memang rapat
sekali. Aku berusaha membuka
secepatnya karena pikiran
kotor mulai menjejali otakku.
Dan akhirnya”sswaasshh..” suara air langsung keluar
ketika karet penutupnya
sudah terlepas. “Oke May..
Sudah terbuka nih, silahkan
lanjutin mandinya” kataku
sambil masih membelakangi tubuh Maya yang sedang
berdiri di belakangku. Ketika
aku membalikkan badanku,
betapa kagetnya aku dengan
pemandangan di depan mataku.
Tubuh Maya tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang
melekat di tubuhnya tadi. “Ma-
Maaff.. Aku mau keluar May”
kataku gugup. Maya tidak
menjawab dan bahkan tidak
memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan
memeluk tubuhku, dan
merangkul leherku dengan
erat. “Dan, Via sudah ceritakan
kehebatan permainan sex
kamu” aroma bau mulutnya yang segar, membuat
jantungku semakin berdetak
kencang. “Mmm, anu Mbak..
Mungkin Via terlalu berlebihan”
kataku. “Berikan aku
kenikmatan itu Dan..” sambil berkata demikian, bibir mungil
Maya langsung mendarat di
bibirku. Lidahnya yang liar
serasa menggeliat mencari
lidahku. Lidahku yang sudah
mulai terpancing birahi, langsung menyambut keliaran
lidah Maya. Tanganku yang
tadi hanya berdiam diri,
sekarang aku beranikan
memeluk tubuhnya yang sexy
bagaikan Britney Spears. Aku merasakan dadanya yang
montok mendesak dadaku
yang bidang. Sesekali tanganku
mulai semakin berani
menjelajahi pinggul Maya,
pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah
menginjak 35 tahun. Aku
meremas pantatnya berkali-
kali sehingga hal itu membuat
nafsu Maya semakin naik.
Bibirku yang sudah mulai murka dan terbawa birahiku
yang mulai merangkak ke
kepalaku. Lehernya yang
jenjang menjadi sasaran empuk
bibirku yang mulai menari-nari
di atasnya. “Ooohh.. Dandy.. Geelli..” desah Maya. Serangan
bibirku semakin menjadi di
leher Maya, sehingga dia
hanya bisa merem melek
mengikuti jilatan lidahku.
Setelah aku puas dilehernya, aku mulai menurunkan
tubuhkan sehingga bibirku
sekarang berhadapan dengan
2 buat bukit kembarnya yang
masih ketat dan kencang. Aku
semakin terbawa dalam aliran birahi yang meledak-ledak,
bibir Maya yang mulai terasuki
nafsu birahinya sendiri mulai
ganas melahap bibriku. Jari
jemarinya yang lentik,
sepertinya terlatih untuk membuka semua kancing yang
menempel di hem yang aku
kenakan. Disaat aku mulai
telanjang dada, bibirnya mulai
menjalar ke arah leherku dan
sesaat kemudian bibirnya sudah mendarat pada dadaku.
Jilatan lidahnya yang semakin
liar, sepertinya tidak ingin
menyisakan sedikitpun dada
bidangku. Darahku mendesir
hebat hingga membuat aku terangsang hebat, ketika
lidahnya menari di puntingku.
Daerah yang paling sensitif di
tubuhku, yang bisa menggugah
nafsu birahiku secara
sepontan. “Ohh.. May.. Aaakh” aku merintih sambil menekan
tengkuknya ke dada bidangku.
Maya benar-benar sudah di
kuasai oleh birahi yang tinggi,
dan tanpa aku sadari ketika
aku sudah merasakan kaki sudah dingin. Ternyata Maya
sudah melepas jeans yang aku
pakai sebelumnya, sehingga
sekarang aku hanya
menganakan celana dalam saja.
Lidahnya semakin lama semakin ke bawah dan sampailah
lidahnya memainkan pusarku.
Tangannya meremas kedua
pantatku sehingga aku benar-
benar terangsang hebat.
Dengan gaya yang sudah fasih, giginya berusaha menarik
celana dalamku dari depan.
Kedua tanganya dengan mudah
menarik CD ku dari belakang.
“Gila.. Pantes Via puas, habis
penismu gede seperti ini” kata Maya memuji. Adik kecilku yang
tadi sudah ingin melepaskan
diri dari belenggu CD yang
membatasinya akhirnya bisa
lepas. Aku melihat kebawah
dan melihat Maya yang sedang tertegun dengan besarnya
penisku. Penisku berdiri tegak
sekali dan sesaat kemudian.
“Mmm.. Srup.. Srupp” mulut
Maya yang mungil mulai
mengulum batang penisku. “Aakhh.. May.. Nikmmaat..
Sekkalii” rintihku. Tanganku
menekan dalam-dalam kepala
belakang Maya, utnuk
memudahkan bergerak maju
mundur dan ketika penisku benar-benar terlean dalam
mulut Maya, kenikmatan yang
luar biasa aku rasakan ketika
ujung penisku menthok pada
dasar mulut Maya. “Sss..
Maayy.. Uhh” aku mendesah kenikamatan. Maya tidak
mempedulikan desahan, rintihan
dan eranganku, wanita itu
denagn buasnya mengulum,
menjilat, mengocok dan
mengoral batang kemaluanku. Sampai aku tidak kuat berdiri.
Setelah Maya puas dengan
aksinya, Maya bangkit dari
posisi pertama yang
sebelumnya jongkok di bawah
selangkangan aku. Kesempatan ini tidak aku sia-siakan untuk
mendorong tubuhnya sehinga
tubuh Maya terduduk di
kloset. Aku langsung jongkok
dan membuka kedua pahanya
yang putih. Lubang vaginanya yang memerah dan disekelilingi
rambut-rambut yang begitu
lebat. Aroma wangi dari lubang
kewanitaannya, membuat
tubuhku berdesir hebat. Tanpa
menunggu lama lagi, lidahku langsung aku julurkan ke
permukaan bibir vagina.
Tanganku bereaksi untuk
menyibak rambut yang tubuh
disekitar selangkangannya
untuk memudahkan aksiku menjilati vaginanya. “Sss..
Dandyy.. Nikmaat sekali.. Ughh”
rintih Maya. Tubuhnya
menggelinjang, sesekali
diangkat menghindari jilatan
lidahku di ujung clitorisnya. Gerak tubuh Maya yang
terkadang berputa-putar dan
naik turun, membuat lidahku
semakin berani menghujam
lebih dalam ke lubang
vaginanya. “Daanndy.. Gilaa banget lidah kamu..” rintih
Maya. “Terus.. Sayang.. Jangan
lepaskan..” pintanya. Lidahku
bergerak keluar masuk dalam
lubang vaginanya, sesekali aku
memancing clitorisnya untuk segera keluar dari
persembunyiiannya. Paha Maya
dibuka lebar sekali sehingga
memudahkan lidahku untuk
menjilat, mengulum, dan
sesekali menghisap dalam- dalam clitorisnya. Aku
perhatikan Maya merem melek
menikmati nakalnya lidahku dan
sesekali aku perhatikanl,
wanita tersebut mengigit bibir
bawahnya seakan menahan rasa nikmat yang bergejolak di
hatinya. “OOhh.. Dandy, aku
nggak tahan.. Ugh..” rintihnya.
Semakin Maya merintih,
mendesah dan mengerang,
semakin membuat nafsuku bergejolak. Sampai aku
rasakan beberapa cairan yang
terasa asin, dan aku semakin
bernafsu untuk menjilatinya.
“Danddy.. Danddyy.. Ooogghh..”
Maya merintih panjang. Dibarengi dengan tubuhnya
yang kejang-kejang, dan
terasa pahanya menggapit
kepalaku dengan kencang. Jari
nya yang lentik meremas
rambutkuyang sedikti gondrong. Maya terpejam
sejenak menikmati lelehnya
cairan yang meluber dari
lubang vaginanya, lidahku tiada
henti menerima luapan cairan
bening yang wangi tersbut. Seakan-akan aku tidak peduli
dengan orgasme yang didapat
Maya pertama kalinya. Dan
ketika aku rasakan cairan
tersebut sudah bersih, aku
membimbing tubuh Maya yang masih lemas. Aku mendekap
tubuh Maya dari belakang,
kami berdua menghadap
cermin. “Ohh.. Dandy..” Maya
mendesah ketika lidahku mulai
menyentuh bagian belakang telinganya. Tangannya
menggapai leherku, dan
tanganku sepontan meraih
buah dadanya dari belakang.
Dengan sentuhan yang sangat
halus, pantatnya yang sintal bergerak memutar di gesekan
batang kemaluanku yang dari
tadi masih tegang. Jari
telunjuk kananku bergerak
menggesek clitoris Maya yang
sduah mulai basah kemabli. “Danddyy..” Maya kembali
mendesah. Peralahan aku
mengangkat kaki kanan Maya
dan aku sandarkan di wastafel
kamar mandi. Sehingga Maya
hanya berdiri dengan satu kaki saja, batang kemaluanku sudah
mulai mencari lubang
kewanitaan Maya dan sekali
hentak. “Bleesst..” kepala
penisku mengoyak vagina
Maya. “Aowww.. Giillaa.. Besaar sekali Dan.. Punya kamu” Maya
merintih. Perlahan aku
beregark maju mundur di
lubang vagina Maya, sampai
akhirnya aku merasakan cairan
yang cukup di lubang vagina Maya. Sekali tekan “bless”
seluruh batang kemaluanku
masuk dalam lubang senggama
Maya dan bersama dengan itu,
tubuh Maya sedikit terangkat.
“Hekk.. Danndyy.. Nikmatt sekalii.. Oooh” Maya merintih
kembali. Gerakan maju mundur
pinggulku membuat tubuh
Maya menggelinjang hebat dan
sesekali memutar pinggulnya
sehingga menimbulkan kenikmatan yang luar biasa di
batang kemaluanku. “Danddy..
Jangan berhenti sayang..
Oogghh” pinta Maya. Nampak
jelas di cermin aku lihat
wajahnya yang begitu menikmati tusukan batang
kemaluanku semakin menjadi.
Aku merasakan sekali ujung
penisku bergerak masuk
sampai di ujung kemaluan
Maya. Wanita tersebut menggoyang kepalanya
kekanan dan kekiri seirama
dengan penisku yang
menghujam dalam pada lubang
kewanitaannya. Kedua
tanganku meremas kedua bukit kembar Maya dan
sesekali membantu pinggul
Maya utnuk berputar-putar.
“Danddy.. Kamu.. Memang..
Jagoo.. Ooohh” tangan Maya
bersandar di cermin sedangkan kepalanya bergerak ke atas
kebawah, kesmaping kiri kanan
seperti orang yang lagi triping.
Beberapa saat kemudian Maya
seperti orang kesurupan dan
ingin memcau birahinya sekencang mungkin. Aku
berusaha mempermainkan
birahinya, disaat Maya semakin
liar. Tempo yang semula tinggi
dengan spontan aku kurangi
sampai seperti gerakan lambat, sehingga centi demi centi
batang kemaluanku terasa
sekali mengoyak dinding vagina
Maya. “Danddy.. Terus..
Sayangg.. Jangan berhenti..”
Maya meminta. Permainanku tersebut benar-benar
memancing birahi Maya untuk
mencapai kepuasan birahinya.
Sesaat kemudian, Maya benar-
benar tidak bisa mengontrol
birahinya. Tubuhnya bergetar hebat. “Danddyy.. Aakuu..
Kelluuarr.. Aaakkhkhh.. Goyang
sayang” rintih Maya. Gerakan
penisku seperti goyangan anisa
bahar yang patah-patah,
membuat birahi Maya semakin tak terkendali. “Dann.. Ddy..
Aaammppunn” rintih Maya
panjang. Bersamaan dengan
rintihan tersebut, aku
menekan penisku dengan dalam
hingga mentok dilangit-langit vagina Maya. Aku merasakan
semburan cairan membasahi
seluruh batang kemaluanku.
“Creek.. Crek.. Crek..” suara
penisku masih bergerak keluar
masuk di lubang vagina Maya. Aku semakin tidak peduli
dengan Maya yang sudah
mendapatkan kedua
orgasmenya, karena aku
sendiri lagi berusaha untuk
mencari kepuasan birahiku. Perlahan, aku turunkan kaki
kanan Maya yang pada posisi
pertama aku naikkan ke atas
wastafel. Posisi Maya, sekarang
sedikit menungging dengan
posisi berdiri. Penisku yang masih tertancap pada lubang
vaginanya langsung aku
hujamkan kembali ke lubang
vagina Maya. “Ohh.. Dandyy..
kamu.. memang.. ahli..” kata
Maya sambil merintih. Kedua telapak tanganku
mencengkeram pinggul Maya
dan menekan tubuhnya supaya
penisku bisa lebih menusuk ke
dalam lubang vaginanya. “May..
vagina kamu memang asyik banget” pujiku. “Kamu suka
minum jamu ya kok masih
seret?” tanyaku. Maya hanya
tersenyum dan kembali
memejamkan matanya
menikmati tusukan penisku yang tiada hentinya. Batang
kemaluanku terasa dipijat oleh
vagina Maya dan hal tersebut
menimbulkan kenikmatan yang
luar biasa. Permainan sexku
benar-benar bisa diterima Maya karena ternyata wanita
tersebut bisa mengimbangi
permainan aku. Sampai
akhirnya aku tidak bisa
menahan kenikmatan yang
mulai tadi sudah mengoyak birahiku. “May.. Aku mau..
Keluuar..” kataku mendesah.
“Aku juga sayang.. Oooh..
Nikmat terus.. Terus..” Maya
merintih. “Dandyy.. Keluarin
didalam.. Aku ingin rasain semprotan kamu..” pinta Maya.
“Iya May.. Ooogh.. Akakhh..”
rintihku. Gerakan maju mundur
dibelakang tubuh Maya
semakin kencang, semakin
cepat dan semakin liar. Kami berdua berusaha mencapai
puncak bersama-sama.
“Danddy.. Aku.. Aku.. Nggaak
kkuaat.. Aaakhh” rintih Maya.
“Aku juga May.. Oohh.. Maayy”
aku merintih. “crut.. Crut.. Crut..” spermaku muncrat
membanjiri vagina Maya.
Karena begitu banyaknya
spermaku yang keluar,
beberapa tetes sampai keluar
dicelah vagina Maya. Setelah beberapa saat kemudian maya
membalikkan tubuhnya dan
berhadapan dengan tubuhku.
“Dandy ternyata Via memang
benar, kamu jago banget
dalam urusan sex. Kamu memang luar biasa” kata Maya
merintih. “Biasa aja kok Mbak,
aku hanya melakukan sepenuh
hatiku saja” kataku merendah.
“Kamu luar biasa..” Maya tidak
meneruskan kata-katanya karena bibirnya yang mungil
kembali menyerang bibirku
yang masih termangu. Tanpa
terasa kami berdua sudah naik
di dalam bathup, kami mandi
bersama. Guyuran air di pancuran shower membuat
tubuh Maya yang molek
seperti bersinar diterpa
cahaya lampu yang
dipancarkan ke seluruh
ruangan tersebut. Dengan halus, aku menuangkan sabun
cair dari perlengkapan bag
shop punya Maya. Aku
mnggosok-gosokkan sabun ke
seluruh tubuh Maya, sesekali
jariku yang nakal memilin punting Maya. “Ughh.. Danddy..”
Maya merintih dan bergetar
saat aku permainkan
puntingnya yang memerah.
Untuk yang kesekian kalinya,
kami berdua berburu kenikmatan. Dan entah sudah
berapa kali Maya seorang
wanita yang sedang butuh
kehangatan mendapatkan
orgasme. Kami memburu
kenikmatan berkali-kali, kami berdua memburu birahinya
yang tidak pernah kenyang.
Sampai akhirnya waktu sudah
menunjukkan pukul 23.30 wib,
dimana aku harus segera balik
kerumah karena celullerku berapa kali tadi berbunyi. Aku
meninggalkan Hotel E.. Sambil
menikmati sisa-sisa kenimatan
yang sudah di tinggalkan oleh
permainan tadi. *****
Pembaca, saran, pesan dan kritikan tetap terbuka di
pengalamanku yang keenam ini.
Sekali lagi saran, kritikan dan
pesan dari anda kami tunggu.
kmatnya bercinta di kantor
1-2), mungkin berikut ini
adalah kisah selanjutnya dari
beberapa kejadian yang
mewarnai kehidupan sex aku.
***** Entah kenapa, semakin aku sering melakukan Making
Love dengan seseorang,
membuat kehidupan sex aku
bersama istriku semakin
romantis saja. Dan entah
semua itu semakin bisa aku nikmati. Mungkin semua ini
adalah dampak dari terlalu
tingginya libidoku sehingga
saat aku lagi mood, tidak
jarang setelah siangnya atau
sorenya aku melakukan dengan teman kencanku,
malamnya aku ganti
menservice istriku. Aku selalu
bersyukur mempunyai
kelebihan dalam urusan
bercinta. Ditambah pengetahuan sex aku yang
aku dapatkan dari film BF,
buku-buku sampai obrolan-
obrolan dengan teman di
kantor, membuat aku semakin
bisa menyelami tentang apa itu sex. Sehingga aku benar-benar
fasih dalam menerjemah apa
yang aku dapat dari
pengetahuan tentang sex. Itu
terbukti dengan keluarnya
banyak pujian dari para teman making love aku. Rata-rata
mereka sangat puas saat
bercinta denganku, dan
mereka menemukan,
merasakan dan menikmati
sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan
dalam masalah sex. *****
Cerita ini berawal dari
perkenalanku dengan seorang
ibu rumah tangga, yang entah
bagaimana ceitanya ibu rumah tangga tersebut mengetahui
nomor cellulerku. Siang itu saat
aku sedang menikmati masa
istirahatku di kantin, tiba-tiba
cellulerku berbunyi. “Hallo,
selamat siang Dandy” suara perempuan yang manja
terdengar. “Hallo juga, siapa ya
ini?” tanyaku serius. “Namaku
Maya” kata perempuan
tersebut mengenalkan diri.
“Maaf, Mbak Maya tahu nomor HP saya darimana?” tanyaku
menyelidik. “Oya, aku temannya
Via dan dari dia aku dapat
nomor kamu” jelasnya. “Ooo,
Mbak Via” kataku datar. Aku
mengingat kembali kisahku sebelumnya yang berjudul
Kisah bersama Ibu Muda. Via
seorang sekretaris yang juga
ikut ‘mewarnai’ kehidupan sex
aku. “Gimana khabar Mbak
Via?” tanyaku. “Baik, dia titip salam kangen sama kamu” jelas
Maya. Sekitar 5 menit, kami
berdua mengobrol layaknya
orang yang sudah kenal lama.
Suara Maya yang lembut dan
manja, membuat aku menerka- nerka bagaimana bentuk fisik
dari wanita tersbut. Saat aku
membayangkan bentuk
fisiknya, Maya membuyarkan
lamunanku. “Hallo.. Dandy, kamu
masih disitu?” tanya Maya. “Iya.. iya Mbak..” kataku gugup.
“Hayo mikir siapa, lagi mikirin
Via ya?” tanyanya
menggodaku. “Nggak kok,
malahan mikirin Mbak Maya
tuh” celetukku. “Masa sih.. Jadi GR nih” dengan suara yang
menggoda. “Dandy, boleh kan
kalau aku mau ketemu kamu?”
tanya Maya. “Boleh aja Mbak..
Dengan senang hati” jawabku
semangat. “Oke deh, kita mau ketemuan dimana?” tanyanya
semangat. “Terserah Mbak
deh, Dandy ngikut aja”
jawabku pasrah. “Oke deh,
nanti sore aku tunggu kamu di
excelso di Tunjungan Plasa” katanya. “Oke, sampai nanti
Dandy.. Aku tunggu jan 18.00”
sambil berkata demikian, HP
nya langsung off. Waktu
menunjukkan pukul 16.30, tiba
saatnya aku pulang kantor dan segera meluncur ke
Tunjungan Plaza. Sebelumnya
aku prepare di kantor, aku
mandi dan membersihkan diri
setelah seharian aku bekerja.
Untuk perlengkapan mandi, memang setiap hari aku
membawa karena memang aku
sering olahraga setelah jam
kantor. Tiba di TP, aku segera
memarkir mobil starletku yang
butut di lantai 3. Jam ditanganku menunjukkan pukul
18 kurang seperempat. Aku
segera menuju ke excellso
seperti yang dikatakan Maya.
Aku segera mengambil tempat
duduk disisi pagar kaca, sehingga aku bisa melihat
orang hilir mudik di area
pertokoan terbesar di
Surabaya ini. Saat mataku
melihat situasi di sekelilingku,
bola mataku berhenti pada seorang wanita setengah baya
yang duduk sendirian. Menurut
tebakan aku, wanita ini
berumur sekitar 35 tahun ke
atas. Wajahnya yang lumayan
putih, membuat aku tertegun. Mataku yang mulai nakal,
berusaha menjelajahi
pemandangan yang sangat
menggiurkan di depanku.
Kakinya yang jenjang,
ditambah dengan belahan pahanya yang putih di balik
rok mininya, membuat semakin
aku gemas. Dalam hatiku, wah
betapa bahagianya aku jika
orang tersebut adalah Maya
yang menghubungi aku siang tadi. Disaat aku membayangkan
sosok di depan mataku, tiba-
tiba wanita itu berdiri dan
menghampiri tempat dudukku.
Dadaku berdegup kencang
ketika dia benar-benar mengambil tempat duduk
semeja dengan aku. “Maaf,
kamu Dandy ya?” tanyanya
sambil menatapku. “Iy.. iyaa..
Kamu Maya?” tanyaku balik
sambil berdiri. Jarinya yang lentik menyentuh tanganku
untuk bersalaman dan darahku
terasa mendesir ketika
tangannya yang halus
meremas tanganku dengan
halus. “Silahkan duduk May” kataku sambil menarik satu
bangku di depanku. “Terima
kasih” kata Maya sambil
tersenyum. “Dari tadi anda
duduk disitu kok tidak
langsung kesini?” tanyaku. “Aku tadi sempat ragu, apakah
kamu memang Dandy” jelasnya.
“Aku tadi juga berpikir, apakah
wanita yang cakep ini kamu?”
kataku sambil senyum. Kami
bercerita panjang lebar tentang apapun yang bisa
diceritakan, kadang-kadang
kami berdua saling canda,
saling menggoda dan sesekali
bicara yang ‘nyerempet’ ke
arah sex. Lesung pipinya yang dalam, menambah sempurna
saja wajahnya yang semakin
matan. Dari pembicaraan
tersebut, terungkaplah kalau
Maya adalah seorang wanita
yang sedang tugas di Surabaya. Maya adalah
seorang pengusaha dan
kebetulan selama 3 hari dinas
di Surabaya. “May, kamu kenal
Via dimana?” tanyaku mnyelidik.
“Via adalah teman chattingku di YM, aku dan via sering
online bersama. Dan kami
terbuka satu sama lain dalam
hal apapun. Begitu juga untuk
kisah rumah tangga, bahkan
masalah sex sekalipun.” mulut mungil Maya menjelaskan
dengan penuh semangat. “OOo,
begitu..” kataku sambil
manggut-manggut. “Ini adalah
hari pertamaku di Surabaya
dan aku berencana menginap 3 hari, sampai urusan kantorku
selesai” jelasnya tanpa aku
tanya. “Sebenarny tadi Via
juga mau dateng tetapi
karena ada acara keluarga,
mungkin besok baru bisa dateng” jelasnya kembali.
“Memang Mbak Maya nginap
dimana?” tanyaku. “Kebetulan
sama perwakilan kantor disini,
di bookingin di Hotel E..”
jelasnya. “Mmm, emang Mbak sama sapa sih?” tanyaku
menyelidik. “Ya sendirilah,
Dandy.. Makanya saat itu aku
tanya Via” kata Maya. “Tanya
apa?” tanyaku mengejar.
“Apakah punya teman yang bisa temanin aku selama di
Surabaya” kata Maya. “Dan
dari situlah aku tahu nomor
celluler kamu” lanjutnya. Tanpa
terasa jam tanganku
menunjukkan pukul 21.15 wib, dan aku liat sekelilingku
pertokoan mulai sepi karena
memang sudah mau tutup.
“Dan.. Kamu mau anter aku
balik ke hotel?” tanya Maya.
“Boleh, masa iya aku tega biarin Mbak Maya sendirian
balik ke hotel” kataku. Setelah
obrolan singkat, kami segera
menuju parkiran mobil dan
segera meluncur ke Hotel E..
Yang tidak jauh dari pusat pertokoan Tunjungan Plasa.
Aku dan Maya bergegas
menuju lift untuk naik ke
lantai 3, dan sesampainya di
kamar nomor 306, Maya
menawarkan aku untuk masuk sejenak. Bau parfum yang
menggugah syaraf kelaki-
lakianku serasa berontak
ketika aku berjalan di
belakangnya. “Silahkan duduk
Dan, aku mau mandi dulu” kata Maya sambil melempar tas
kecilnya, diatas ranjang.
Mataku menyelidik, apakah
benar Maya sendirian dalam
kamar. Dan memang benar
kelihatannya dia sendirian. Aku lihat kopor kecilnya yang masih
rapi, nampak hanya beberapa
helai gaun yang berada di atas
ranjang. Saat mataku masih
asyik menjelajahi ruangan
kamar Maya, tiba-tiba sesosok tubuh yang jenjang dengan
hanya mengenakan sehelai
handuk yang menutupi
tubuhnya yang molek. “Dandy,
aku minta tolong nih buangan
airnya di bathup nggak bisa dibuang” kata Maya sambil
tetap berdiri di muka pintu
kamar mandi. Aku segera
bangkit dari dudukku dan
berjalan menuju kamar mandi.
Ketika aku melewati tubuh Maya, mataku yang nakal
sedikit mencuri pandang di
belahan dada Maya yang
terkesan menyembul keluar
karena terhimpit ketatnya
handuk yang menutupi tubuhnya. Aroma sabun lux
kuning merasuk menusuk
hidungku, aku segera menuju
bathup yang dimaksud oleh
Maya. Aku menggunakan
tangkai sendok untuk mencungkil karet penutup
bathup yang memang rapat
sekali. Aku berusaha membuka
secepatnya karena pikiran
kotor mulai menjejali otakku.
Dan akhirnya”sswaasshh..” suara air langsung keluar
ketika karet penutupnya
sudah terlepas. “Oke May..
Sudah terbuka nih, silahkan
lanjutin mandinya” kataku
sambil masih membelakangi tubuh Maya yang sedang
berdiri di belakangku. Ketika
aku membalikkan badanku,
betapa kagetnya aku dengan
pemandangan di depan mataku.
Tubuh Maya tidak dibalut lagi oleh handuk putih yang
melekat di tubuhnya tadi. “Ma-
Maaff.. Aku mau keluar May”
kataku gugup. Maya tidak
menjawab dan bahkan tidak
memberiku jalan. Wanita itu langsung berhamburan
memeluk tubuhku, dan
merangkul leherku dengan
erat. “Dan, Via sudah ceritakan
kehebatan permainan sex
kamu” aroma bau mulutnya yang segar, membuat
jantungku semakin berdetak
kencang. “Mmm, anu Mbak..
Mungkin Via terlalu berlebihan”
kataku. “Berikan aku
kenikmatan itu Dan..” sambil berkata demikian, bibir mungil
Maya langsung mendarat di
bibirku. Lidahnya yang liar
serasa menggeliat mencari
lidahku. Lidahku yang sudah
mulai terpancing birahi, langsung menyambut keliaran
lidah Maya. Tanganku yang
tadi hanya berdiam diri,
sekarang aku beranikan
memeluk tubuhnya yang sexy
bagaikan Britney Spears. Aku merasakan dadanya yang
montok mendesak dadaku
yang bidang. Sesekali tanganku
mulai semakin berani
menjelajahi pinggul Maya,
pantatnya yang masih terlihat kencang walaupun sudah
menginjak 35 tahun. Aku
meremas pantatnya berkali-
kali sehingga hal itu membuat
nafsu Maya semakin naik.
Bibirku yang sudah mulai murka dan terbawa birahiku
yang mulai merangkak ke
kepalaku. Lehernya yang
jenjang menjadi sasaran empuk
bibirku yang mulai menari-nari
di atasnya. “Ooohh.. Dandy.. Geelli..” desah Maya. Serangan
bibirku semakin m

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: